Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Krisis Bahan Baku Tekan Industri Makanan dan Minuman

📅 Selasa, 14 Apr 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Krisis Bahan Baku Tekan Industri Makanan dan Minuman Doc: antara
Ket. Adhi S Lukman Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia - Ini memang situasi yang cukup rumit di industri, khususnya makanan dan minuman. Hampir semua pakai plastik, dan kita juga kesulitan mendapat (bahan baku) dari pemasok.

Harga plastik mengalami kenaikan signifikan, berkisar antara 30 hingga 100 persen yang membuat pelaku usaha mulai menaikkan harga jual produk.

Jakarta – Kenaikan harga plastik mulai berdampak langsung terhadap industri makanan dan minuman (mamin), memicu kenaikan harga produk di pasaran. Hal ini disebabkan tingginya ketergantungan industri terhadap kemasan plastik di tengah gangguan pasokan global.

Seperti dikutip dari Antara, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, Adhi S Lukman, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha.

“Ini memang situasi yang cukup rumit di industri, khususnya makanan dan minuman. Hampir semua pakai plastik, dan kita juga kesulitan mendapat (bahan baku) dari pemasok,” ujarnya di Jakarta, Senin (13/4).

Selain kenaikan harga, ketersediaan bahan baku plastik juga menjadi persoalan krusial. Sejumlah pemasok bahkan telah menginformasikan potensi kehabisan stok dalam beberapa bulan ke depan.

“Beberapa sudah menyatakan kehabisan bahan baku untuk kemasan. Dari pemasok ada yang bilang terakhir Mei atau Juni sudah habis. Ini yang harus dicarikan solusinya,” katanya.

Adhi mengungkapkan, harga plastik mengalami kenaikan signifikan, berkisar antara 30 persen hingga 100 persen, termasuk untuk kemasan sederhana seperti plastik bakso dan produk daging beku.

“Misalnya kontribusi kemasan terhadap harga pokok itu sekitar 25 persen saja, kalau itu naik 100 persen kan berarti ke harga pokok tinggi sekali pengaruhnya sekitar 25 persen dan ini akan menyebabkan industri mengalami kesulitan untuk menjual, karena produknya pasti harganya mahal, sementara dari masyarakat terbatas,” jelasnya.

Kondisi ini membuat pelaku usaha mulai menaikkan harga jual produk. Bahkan, kenaikan harga sudah terlihat pada komoditas dasar seperti beras dan minyak goreng, bukan karena harga barangnya, melainkan biaya kemasan yang meningkat.

“Beberapa sudah naik harga. Di pasar, yang basic seperti beras, minyak goreng. Itu bukan barangnya yang naik, tapi kemasannya yang naik, sehingga terjadi kenaikan harga,” ujarnya.

Lebih lanjut, tekanan biaya juga menggerus margin usaha. Kenaikan harga bahan baku tidak sepenuhnya dapat dibebankan ke konsumen.

“Katakan misalnya kalau kontribusi kemasan itu 20 persen, kalau harganya (plastik) naik 60 persen aja berarti kan sekitar 12 persen harga pokoknya naik. Kalau kita bisa naikkan harga jualnya 5 persen, berarti kan tekornya sudah 7 persen,” kata Adhi.

Langkah Mitigasi

Di sisi lain, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut pemerintah tengah mencari sumber pasokan baru di tengah krisis global akibat konflik di Timur Tengah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ekonomi
Sektor UMKM Jangan Jadi Kor...
Nasional
Prabowo Jelaskan Alasan Raj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Polri Aktifkan Satgas Cegah Praktik Judi Selama Piala Dunia 2026

Polri Aktifkan Satgas Cegah Praktik Judi Selama Piala Dunia 2026

10 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.