Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ironis! Negara Asal Tempe Lahir Namun Kedelai dari Luar Negeri, Mengapa Ini Bisa Terjadi?

📅 Jumat, 10 Apr 2026, 05:11 WIB | Oleh:

Di tingkat budidaya, tantangan ini diperbesar oleh struktur pertanian kita. Sebagian besar kedelai ditanam oleh petani kecil dengan keterbatasan modal dan akses teknologi. Pemupukan sering dilakukan secara umum tanpa mempertimbangkan kondisi spesifik tanah.

Penggunaan inokulan bakteri penambat nitrogen belum menjadi praktik yang luas. Pengelolaan air juga belum sepenuhnya terkendali, terutama pada lahan tadah hujan.

Dalam sistem seperti ini, tanaman kedelai tumbuh dalam kondisi yang jauh dari optimal, bertahan, tetapi tidak berkembang maksimal.

Bandingkan dengan negara-negara produsen utama dunia. Di sana, kedelai ditanam dalam skala luas dengan pendekatan pertanian presisi. Analisis tanah dilakukan secara rutin untuk menentukan kebutuhan hara secara spesifik. Pemupukan disesuaikan dengan kondisi lapangan, dan varietas yang digunakan dirancang untuk merespons input tinggi.

Pengelolaan air dan waktu tanam diatur sedemikian rupa agar fase kritis tanaman berlangsung dalam kondisi lingkungan yang ideal. Hasilnya bukan hanya produksi yang tinggi, tetapi juga kualitas biji yang lebih baik—besar, seragam, dan bernilai ekonomi tinggi.

Solusi tanah

Lalu, apakah Indonesia tidak memiliki peluang untuk meningkatkan produksi kedelai? Tentu saja ada. Namun, pendekatannya tidak bisa sekadar meniru negara lain. Kita harus memahami bahwa kedelai yang kita tanam berada dalam sistem tanah tropis yang unik.

Perbaikan harus dimulai dari tanah. Peningkatan kandungan bahan organik melalui pengembalian sisa tanaman, penggunaan pupuk organik, dan praktik konservasi tanah menjadi langkah mendasar.

Pengapuran perlu dilakukan untuk menurunkan kemasaman tanah dan meningkatkan ketersediaan hara. Selain itu, penggunaan inokulan bakteri penambat nitrogen perlu didorong agar fungsi biologis tanah kembali optimal.

Pemuliaan varietas juga memegang peran penting. Indonesia membutuhkan varietas kedelai yang dirancang khusus untuk kondisi tropis, toleran terhadap tanah masam, mampu berproduksi baik pada radiasi yang lebih rendah, dan efisien dalam penggunaan hara. Varietas seperti ini tidak hanya akan meningkatkan produksi, tetapi juga memperbaiki kualitas biji.

Lebih jauh lagi, kedelai perlu ditempatkan dalam konteks sistem pertanian berkelanjutan. Sebagai tanaman leguminosa, kedelai memiliki kemampuan memperbaiki kesuburan tanah melalui penambahan nitrogen alami.

Jika dikelola dengan baik dalam pola rotasi tanaman, kedelai tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga meningkatkan kualitas tanah untuk tanaman berikutnya.

Pada akhirnya, persoalan kedelai adalah cermin dari cara kita memandang tanah. Selama tanah diperlakukan hanya sebagai media tanam, bukan sebagai sistem hidup yang kompleks, maka potensi produksi akan selalu terbatas.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Polisi Ringkus Pemalak yang...

Menbud Ungkap Jadwal Terbit Buku Sejarah Baru

37 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Menbud Ungkap Jadwal Terbit...

Woody Kembali Beraksi di Film “Toy Story 5

56 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Woody Kembali Beraksi di Fi...
Nasional
Kementan Ungkap Produksi Su...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Gempa Magnitudo 5,1 Kembali Guncang Sulawesi Tengah

Gempa Magnitudo 5,1 Kembali Guncang Sulawesi Tengah

17 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.