Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ironis! Negara Asal Tempe Lahir Namun Kedelai dari Luar Negeri, Mengapa Ini Bisa Terjadi?

📅 Jumat, 10 Apr 2026, 05:11 WIB | Oleh:
Ironis! Negara Asal Tempe Lahir Namun Kedelai dari Luar Negeri, Mengapa Ini Bisa Terjadi? Doc: ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Ket. Ilustrasi perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor yang kini harganya naik di sentra perajin tempe di Sanan, Malang, Jawa Timur.

JAKARTA - Setiap hari kita mengonsumsi tempe dan tahu, dua pangan yang begitu lekat dengan identitas Indonesia. Dari warung sederhana hingga meja makan keluarga, keduanya hadir sebagai sumber protein utama yang terjangkau.

Namun ada satu ironi yang jarang kita renungkan: bahan baku utama keduanya, kedelai, justru sebagian besar berasal dari luar negeri. Bahkan di pasar tradisional sekalipun, perbedaan itu terlihat jelas.

Kedelai impor cenderung berbiji lebih besar dan seragam, sementara kedelai lokal lebih kecil. Mengapa ini terus terjadi di negeri yang begitu akrab dengan tahu dan tempe?

Jawabannya tidak sesederhana soal varietas atau teknologi budidaya. Ia berakar lebih dalam, pada hubungan kompleks antara tanah, iklim, dan sistem pertanian di negeri ini.

Produktivitas kedelai

Produktivitas kedelai Indonesia saat ini hanya berkisar 1,5–1,7 ton per hektare, sementara Brasil dan Amerika Serikat telah melampaui 3,3 ton per hektare. Artinya, hasil kedelai kita baru sekitar setengah dari negara produsen utama dunia, bukan semata persoalan teknologi, tetapi cerminan dari perbedaan mendasar pada tanah, iklim, dan cara kita mengelola keduanya.

Perbedaan ini bukan semata-mata persoalan teknologi, tetapi mencerminkan interaksi yang lebih dalam antara kondisi tanah tropis yang masam dan miskin hara, iklim lembap dengan radiasi terbatas, serta sistem budidaya yang belum sepenuhnya optimal dalam mendukung fase pengisian biji.

Data menunjukkan bahwa kebergantungan Indonesia terhadap kedelai impor masih sangat tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 80–90 persen kebutuhan kedelai nasional dipenuhi dari impor, dengan volume mencapai lebih dari 2,5 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya berkisar ratusan ribu ton.

Untuk industri tahu dan tempe, yang menyerap sebagian besar konsumsi kedelai nasional, ketergantungan ini bahkan dapat mencapai lebih dari 90 persen. Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan kedelai di Indonesia bukan semata-mata soal produksi, tetapi juga menyangkut kualitas hasil, stabilitas pasokan, serta kesesuaian antara karakter tanah tropis dan kebutuhan fisiologis tanaman kedelai itu sendiri.

Selama ini, kedelai impor Indonesia sebagian besar berasal dari Amerika Serikat, Brazil, Argentina, dan Kanada. Pola ini menunjukkan bahwa Indonesia sangat bergantung pada kawasan Amerika sebagai sumber utama bahan baku kedelai, baik karena kualitas biji yang lebih seragam maupun kemampuan mereka menyediakan pasokan dalam skala besar dan berkelanjutan.

Iklim tropis

Indonesia adalah negeri tropis basah. Curah hujan tinggi sepanjang tahun, kelembapan udara yang besar, serta tutupan awan yang kerap menghalangi radiasi matahari membentuk lingkungan tumbuh yang sangat khas. Dalam kondisi seperti ini, tanaman kedelai menghadapi tantangan yang tidak sederhana, terutama pada fase-fase kritis pertumbuhannya.

Kedelai memiliki fase pertumbuhan yang sensitif, khususnya saat pembungaan dan pengisian biji. Pada fase ini, tanaman membutuhkan kondisi yang relatif kering dengan radiasi matahari yang cukup tinggi agar fotosintesis berjalan optimal dan hasilnya dapat dialirkan ke biji.

Di negara-negara produsen utama seperti Brazil dan Amerika Serikat, kondisi ini tersedia secara alami melalui pola musim yang jelas. Tanaman tumbuh dengan cukup air pada fase awal, lalu memasuki periode kering saat pembentukan biji. Energi matahari yang melimpah memungkinkan biji berkembang penuh, besar, dan seragam.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Dibayangi Eskalasi Geopolitik, 10 Agustus 2026
    Preview komentar:
    Fluktuasi nilai tukar Rupiah yang rentan terhadap kebijakan ...
  • Logistik Hijau Dinilai Kunci Menangkan Persaingan Industri
    Preview komentar:
    Inisiatif mulia dari Kementerian Kehutanan terkait optimalisasi rute ...
  • ESDM: Efisiensi Energi Bisa Pangkas 37 Persen Emisi Sektor Energi, Industri Makin Untung
    Preview komentar:
    Langkah proaktif pemerintah melalui program percontohan SETI ini ...
Luar Negeri
Kolombia Digoyang Gempa M 7...

Gempa Bumi Magnitude 7,4 Guncang Kolombia Sedikitnya 20 Orang Tewas

42 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Gempa Bumi Magnitude 7,4 Gu...
Prabowo Ajukan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI, Namanya Tunggal ke DPR

Prabowo Ajukan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI, Namanya Tunggal ke DPR

10 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.