Rahasia Asal-Usul Vertebrata dari Fosil Ikan Berusia 436 Juta Tahun
📅 Kamis, 09 Apr 2026, 07:20 WIB | Oleh: Haryo BronoPENELITIAN ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari Institut Paleontologi Vertebrata dan Paleoantropologi (IVPP), Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, yang dipimpin oleh Prof. Min Zhu bersama Jing Lu dan You’an Zhu. Hasil riset mereka dipublikasikan dalam dua artikel berturut-turut di jurnal Nature, menandai signifikansi temuan tersebut dalam komunitas ilmiah global.
Dalam studi tersebut, para peneliti mengungkap dua spesies kunci, yakni Eosteus chongqingensis dan Megamastax amblyodus. Kedua fosil ini menyimpan detail anatomi penting, termasuk struktur rahang, gigi, serta bagian tempurung otak, yang selama ini jarang ditemukan dalam kondisi utuh pada fosil dari periode Silur.
Analisis filogenetik menunjukkan bahwa kedua spesies tersebut termasuk dalam kelompok induk ikan bertulang (osteichthyan stem group), yaitu kelompok awal yang hidup sebelum terjadinya pemisahan evolusi besar antara dua cabang utama ikan bertulang: ikan bersirip pari (actinopterygii) dan ikan bersirip lobus (sarcopterygii).
“Fosil-fosil ini merepresentasikan bentuk paling primitif yang diketahui sebelum divergensi dua garis keturunan utama ikan bertulang,” tulis para peneliti dalam publikasinya di jurnal tersebut.
Mengisi Celah Evolusi yang Hilang
Sebaiknya Anda baca juga:
Selama beberapa dekade, ilmuwan menghadapi kesulitan dalam melacak asal-usul ikan bertulang karena minimnya fosil dari fase awal evolusi. Sebagian besar temuan sebelumnya berasal dari periode Devonian (sekitar 419–359 juta tahun lalu), ketika ikan bertulang sudah berkembang menjadi bentuk yang lebih terspesialisasi.
Akibatnya, fase transisi awal ketika nenek moyang bersama kedua cabang tersebut mulai berevolusi masih menjadi “missing link” dalam sejarah kehidupan. Penemuan terbaru ini menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
Lebih jauh, ikan bertulang memiliki posisi sentral dalam pohon evolusi vertebrata. Dari kelompok inilah kemudian muncul berbagai bentuk kehidupan, termasuk tetrapoda vertebrata darat berkaki empat yang pada akhirnya melahirkan amfibi, reptil, burung, hingga mamalia, termasuk manusia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kecil, Tua, dan Revolusioner
Salah satu temuan paling signifikan adalah Eosteus chongqingensis, yang ditemukan di endapan Silur Awal di wilayah Chongqing. Dengan panjang tubuh hanya sekitar 3 sentimeter, ikan ini mungkin tampak tidak mencolok. Namun, dari sudut pandang ilmiah, ia merupakan penemuan luar biasa.
Fosil ini terawetkan hampir sempurna, memperlihatkan seluruh tubuh dari kepala hingga ekor. Usianya menjadikannya fosil ikan bertulang lengkap tertua yang pernah ditemukan, bahkan lebih tua dibandingkan mikrofosil ikan bertulang yang sebelumnya dianggap paling awal.
Yang membuat Eosteus semakin menarik adalah kombinasi ciri anatominya. Di satu sisi, ia memiliki tubuh ramping, sirip punggung tunggal, dan struktur sisik khusus (fulcra kaudal) yang menyerupai ikan bersirip pari purba. Namun di sisi lain, ia tidak memiliki lepidotrichia (sirip tulang) yang umum pada ikan bertulang modern, dan justru menunjukkan ciri yang sebelumnya hanya ditemukan pada ikan bertulang rawan atau placoderm.
Kombinasi ini menunjukkan bahwa evolusi ciri-ciri utama ikan bertulang berlangsung secara bertahap dan lebih kompleks dari yang selama ini diperkirakan.
Raksasa Silur yang Memecahkan Misteri
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!