Perempuan di Dunia Digital: Kesempatan Sama untuk Semua
📅 Rabu, 11 Mar 2026, 16:08 WIB | Oleh: SujarJAKARTA -- Setiap tanggal 8 Maret kita memperingati Hari Perempuan Internasional. Bila kita hubungkan dengan dunia digital, saat ini, maknanya semakin terasa. Internet, kini ibarat jalan raya utama tempat orang belajar, bekerja, membangun usaha, hingga mengakses layanan penting di berbagai bidang, seperti kesehatan dan perbankan.
Meskipun demikian, tidak semua orang bisa melintas di jalan ini dengan mudah, terutama kalangan perempuan. Masih ada kesenjangan, siapa yang bisa terhubung, siapa yang mampu membayar, dan siapa yang memiliki keterampilan untuk menggunakan teknologi secara aman dan bermanfaat.
Di Indonesia dan di banyak negara lain, kesenjangan ini memang mulai mengecil, tetapi belum benar-benar tertutup. Karena itu, momentum Hari Perempuan Internasional mendorong kita untuk memastikan jalan digital ini dapat diakses oleh semua, termasuk kaum perempuan, tanpa hambatan.
Angka global terbaru menunjukkan, laki-laki yang memakai internet lebih banyak daripada perempuan. Pada 2024, sekitar 70 persen laki-laki menggunakan internet, sementara perempuan 65 persen. Artinya, ada selisih sekitar 189 juta orang. Dan jurang ini paling terasa di negara berpendapatan rendah. Di sana, hanya 27 persen penduduk yang online, jauh tertinggal dari negara maju. Jadi, walau dunia makin digital, sebagian besar perempuan di negara berpendapatan rendah belum bisa ikut mengambil peran.
Kabar baiknya, di negara berkembang, perempuan mulai mengejar. Laporan terakhir dari BCG menunjukkan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan mulai mengecil, dari 19 persen (2022) menjadi 15 persen (2023).
Sebaiknya Anda baca juga:
Indonesia termasuk yang mendorong perbaikan kesetaraan penggunaan internet ini. Meskipun begitu, masih ada sekitar 785 juta perempuan yang belum bisa menikmati fasilitas daring tersebut. Banyak yang terhambat karena belum punya ponsel pintar (smartphone) atau kuota internet yang tergolong masih mahal untuk dijangkau.
Untuk menutup jurang ini, bukan sekadar "isu perempuan". Hitung-hitungannya jelas: jika perempuan mendapat akses digital yang sama, ekonomi dunia bisa bertambah sekitar 1,5 triliun dolar AS dan puluhan juta perempuan bisa keluar dari kemiskinan sebelum 2030. Ada juga sisi keadilan sosial.
Laporan Forum Ekonomi Dunia menyebut, bila kita melaju seperti sekarang, butuh 134 tahun untuk mencapai kesetaraan penuh antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek, termasuk ekonomi, pendidikan, dan kepemimpinan. Itu artinya anak cucu kita masih akan membahas hal yang sama jika kita tidak mempercepat langkah, terutama lewat jalur digital yang pertumbuhannya paling cepat.
Tantangan
Sebaiknya Anda baca juga:
Apa pelajaran utama dari Hari Perempuan Internasional 2026 ini? Tema Hari Perempuan Internasional 2026 adalah "Hak. Keadilan. Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan". Tema ini membawa pesan sederhana: hak itu harus terasa di kehidupan sehari-hari, bukan hanya tertulis dalam aturan.
Saat ini, menurut PBB, hak yang dinikmati perempuan baru sekitar 64 persen dari hak laki-laki di berbagai bidang (pekerjaan, uang, keluarga, keselamatan, dan lain-lain). Jika perubahan berjalan pelan, butuh ratusan tahun sampai benar-benar mencapai posisi setara antara laki-laki dengan perempuan.
Maka, yang dibutuhkan bukan sekadar janji, tetapi aksi, mulai dari kebijakan yang tepat, penegakan hukum, sampai program yang menyentuh akar masalah.
Seruang dengan itu, juga menyinggung keamanan di dunia daring. Komisi PBB untuk Status Perempuan menekankan bahwa teknologi harus aman dan ramah bagi perempuan, termasuk pencegahan kekerasan dan pelecehan di internet, serta pendidikan digital sejak dini. Tanpa rasa aman, orang enggan menggunakan layanan digital, sebaik apa pun jaringannya.
Untuk mewujudkan semua itu, kita masih mengalami sejumlah tantangan. Pertama, mengenai harga dan perangkat. Di banyak wilayah, internet masih mahal, dan ponsel pintar belum terjangkau semua orang. Untuk sebagian keluarga, memilih paket data sama sulitnya dengan memilih kebutuhan pokok. Ini membuat perempuan (yang sering memprioritaskan kebutuhan rumah tangga), menunda menggunakan akses internet.
Kedua, sinyal dan infrastruktur. Di desa atau wilayah terpencil, sinyal sering tidak stabil. Ini membuat pengalaman untuk mengakses dunia dalam jaringan (daring) menjadi mengecewakan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!