Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Perempuan di Dunia Digital: Kesempatan Sama untuk Semua

📅 Rabu, 11 Mar 2026, 16:08 WIB | Oleh:
Perempuan di Dunia Digital: Kesempatan Sama untuk Semua Doc: ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO
Ket. Pelaku UMKM mempraktikkan penerapan teknologi kecerdasan artifisial dalam Pelatihan Literasi Digital Perempuan PandAI di Rumah Kreatif BUMN di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (18/11/2025).

JAKARTA -- Setiap tanggal 8 Maret kita memperingati Hari Perempuan Internasional. Bila kita hubungkan dengan dunia digital, saat ini, maknanya semakin terasa. Internet, kini ibarat jalan raya utama tempat orang belajar, bekerja, membangun usaha, hingga mengakses layanan penting di berbagai bidang, seperti kesehatan dan perbankan.

Meskipun demikian, tidak semua orang bisa melintas di jalan ini dengan mudah, terutama kalangan perempuan. Masih ada kesenjangan, siapa yang bisa terhubung, siapa yang mampu membayar, dan siapa yang memiliki keterampilan untuk menggunakan teknologi secara aman dan bermanfaat.

Di Indonesia dan di banyak negara lain, kesenjangan ini memang mulai mengecil, tetapi belum benar-benar tertutup. Karena itu, momentum Hari Perempuan Internasional mendorong kita untuk memastikan jalan digital ini dapat diakses oleh semua, termasuk kaum perempuan, tanpa hambatan.

Angka global terbaru menunjukkan, laki-laki yang memakai internet lebih banyak daripada perempuan. Pada 2024, sekitar 70 persen laki-laki menggunakan internet, sementara perempuan 65 persen. Artinya, ada selisih sekitar 189 juta orang. Dan jurang ini paling terasa di negara berpendapatan rendah. Di sana, hanya 27 persen penduduk yang online, jauh tertinggal dari negara maju. Jadi, walau dunia makin digital, sebagian besar perempuan di negara berpendapatan rendah belum bisa ikut mengambil peran.

Kabar baiknya, di negara berkembang, perempuan mulai mengejar. Laporan terakhir dari BCG menunjukkan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan mulai mengecil, dari 19 persen (2022) menjadi 15 persen (2023).

Indonesia termasuk yang mendorong perbaikan kesetaraan penggunaan internet ini. Meskipun begitu, masih ada sekitar 785 juta perempuan yang belum bisa menikmati fasilitas daring tersebut. Banyak yang terhambat karena belum punya ponsel pintar (smartphone) atau kuota internet yang tergolong masih mahal untuk dijangkau.

Untuk menutup jurang ini, bukan sekadar "isu perempuan". Hitung-hitungannya jelas: jika perempuan mendapat akses digital yang sama, ekonomi dunia bisa bertambah sekitar 1,5 triliun dolar AS dan puluhan juta perempuan bisa keluar dari kemiskinan sebelum 2030. Ada juga sisi keadilan sosial.

Laporan Forum Ekonomi Dunia menyebut, bila kita melaju seperti sekarang, butuh 134 tahun untuk mencapai kesetaraan penuh antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek, termasuk ekonomi, pendidikan, dan kepemimpinan. Itu artinya anak cucu kita masih akan membahas hal yang sama jika kita tidak mempercepat langkah, terutama lewat jalur digital yang pertumbuhannya paling cepat.

Tantangan

Apa pelajaran utama dari Hari Perempuan Internasional 2026 ini? Tema Hari Perempuan Internasional 2026 adalah "Hak. Keadilan. Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan". Tema ini membawa pesan sederhana: hak itu harus terasa di kehidupan sehari-hari, bukan hanya tertulis dalam aturan.

Saat ini, menurut PBB, hak yang dinikmati perempuan baru sekitar 64 persen dari hak laki-laki di berbagai bidang (pekerjaan, uang, keluarga, keselamatan, dan lain-lain). Jika perubahan berjalan pelan, butuh ratusan tahun sampai benar-benar mencapai posisi setara antara laki-laki dengan perempuan.

Maka, yang dibutuhkan bukan sekadar janji, tetapi aksi, mulai dari kebijakan yang tepat, penegakan hukum, sampai program yang menyentuh akar masalah.

Seruang dengan itu, juga menyinggung keamanan di dunia daring. Komisi PBB untuk Status Perempuan menekankan bahwa teknologi harus aman dan ramah bagi perempuan, termasuk pencegahan kekerasan dan pelecehan di internet, serta pendidikan digital sejak dini. Tanpa rasa aman, orang enggan menggunakan layanan digital, sebaik apa pun jaringannya.

Untuk mewujudkan semua itu, kita masih mengalami sejumlah tantangan. Pertama, mengenai harga dan perangkat. Di banyak wilayah, internet masih mahal, dan ponsel pintar belum terjangkau semua orang. Untuk sebagian keluarga, memilih paket data sama sulitnya dengan memilih kebutuhan pokok. Ini membuat perempuan (yang sering memprioritaskan kebutuhan rumah tangga), menunda menggunakan akses internet.

Kedua, sinyal dan infrastruktur. Di desa atau wilayah terpencil, sinyal sering tidak stabil. Ini membuat pengalaman untuk mengakses dunia dalam jaringan (daring) menjadi mengecewakan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Edukasi untuk siswa SLB

59 menit yang lalu | Deri Henriawan

Megapolitan
Edukasi untuk siswa SLB
MILITER

TNI AD Tertibkan Rumah Dinas

1 jam lalu | Deri Henriawan

Megapolitan
TNI AD Tertibkan Rumah Dinas
Daerah
Kemeriahan Galuh Ethnic Car...

Raker Komisi II DPR Bahas RKA/RKP

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Raker Komisi II DPR Bahas R...

XLSMART Bravo 500 Summit 2026

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
XLSMART Bravo 500 Summit 2026
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Digitalisasi Masif! Kota Cirebon Kuasai Transaksi QRIS di Kawasan Ciayumajakuning

Digitalisasi Masif! Kota Cirebon Kuasai Transaksi QRIS di Kawasan Ciayumajakuning

11 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.