Kuat-kuatan, Perang Timteng Bakal Berjalan Jauh Lebih Lama dari Perkiraan Trump
📅 Jumat, 06 Mar 2026, 06:12 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Sana-sama memiliki senjata canggih, perang zaman sekarang takkan mudah kelar. Seperti Russia yang tak mampu menundukkan Ukraina dan harus berjalan lama, perang Amerika Serikat-Iran pun tak kan berjalan cepat.
Di tengah mempertimbangkan operasi militer terhadap Iran yang dapat berlangsung setidaknya 100 hari atau hingga September, surat kabar Politico melaporkan, pada hari Rabu, Menteri Perang AS Pete Hegseth kembali merevisi jadwal operasi militer terhadap Iran menjadi delapan minggu dari sebelumnya empat hingga lima minggu.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menetapkan tenggat waktu empat hingga lima minggu untuk menyelesaikan serangan terhadap Iran, jika diperlukan. Komando Pusat AS (CENTCOM) meminta tambahan perwira intelijen militer ke markas besarnya di Tampa, Florida, untuk mendukung operasi terkait Iran, sebut surat kabar itu yang mengutip dokumen internal Pentagon (Departemen Pertahanan).
Penambahan personel intelijen tersebut mengindikasikan bahwa Pentagon tengah mempersiapkan anggaran untuk operasi berkepanjangan dan menunjukkan bahwa pemerintah AS semula meremehkan skala konflik tersebut, menurut laporan itu.
Upaya AS meningkatkan sumber daya evakuasi bagi warga Amerika di Timur Tengah dan memperkuat pasukan pengumpul intelijen juga mengisyaratkan bahwa pemerintahan Trump belum sepenuhnya siap menghadapi konflik yang lebih besar dengan Iran, sebut Politico.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada Sabtu (28/2), AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa warga sipil. Iran kemudian meluncurkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Pemerintahan Sementara Iran
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, pada Kamis menyatakan bahwa sebuah badan pemerintahan sementara beranggotakan tiga orang telah dibentuk untuk memimpin negara, menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, hingga pemimpin baru terpilih.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Sebuah badan baru telah dibentuk yang terdiri dari tiga orang. Jadi mereka akan bertanggung jawab sampai pemimpin baru terpilih. Mereka sedang bekerja untuk mempersiapkan landasan bagi pemilihan pemimpin baru," kata Takht-Ravanchi kepada wartawan.
Awal pekan ini, anggota Majelis Pakar Iran, Mohsen Qomi, yang bertugas memilih pemimpin negara, mengatakan bahwa proses pemilihan pemimpin tertinggi baru sedang berlangsung.
Mahmoud Rajabi, anggota presidium badan negara, mengatakan pada 4 Maret bahwa informasi final mengenai hasil pemilihan tersebut akan diumumkan oleh sekretariat Majelis Pakar.
Sementara itu, AS tengah mempertimbangkan operasi militer terhadap Iran yang dapat berlangsung setidaknya 100 hari atau hingga September, surat kabar Politico melaporkan. Pada Rabu (4/3), Menteri Perang AS Pete Hegseth kembali merevisi jadwal operasi militer terhadap Iran menjadi delapan pekan dari sebelumnya empat hingga lima pekan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menetapkan tenggat waktu empat hingga lima minggu untuk menyelesaikan serangan terhadap Iran, jika diperlukan. Komando Pusat AS (CENTCOM) meminta tambahan perwira intelijen militer ke markas besarnya di Tampa, Florida, untuk mendukung operasi terkait Iran, sebut surat kabar itu yang mengutip dokumen internal Pentagon (Departemen Perang AS).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!