IHSG Hari Ini Terseret Bursa Asia, Investor Kabur ke Safe Haven: Sinyal Bahaya Pasar?
📅 Senin, 02 Mar 2026, 18:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Hafidz Mubarak A
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, mengikuti tren bursa Asia. Ini mencerminkan perubahan cepat arah sentimen global.
Ketika investor berbondong-bondong memindahkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas, pasar saham di kawasan emerging market, termasuk Indonesia, menjadi korban pertama arus keluar modal.
Tekanan ini bukan sekadar koreksi teknikal, melainkan sinyal meningkatnya aversi risiko akibat ketidakpastian global yang belum mereda.
Perpindahan dana tersebut menunjukkan pasar tengah menguji daya tahan fundamental domestik. Jika arus capital outflow berlanjut, tekanan terhadap IHSG bisa meluas ke sektor-sektor berbasis konsumsi dan perbankan, yang selama ini menjadi penopang utama indeks.
Situasi ini menempatkan otoritas dan pelaku pasar pada posisi krusial: menjaga kepercayaan investor agar pelemahan tidak berubah menjadi spiral kepanikan yang lebih dalam.
Sebaiknya Anda baca juga:
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (2/3) sore, ditutup melemah 218,65 poin atau 2,66 persen ke posisi 8.016,83 mengikuti pelemahan bursa saham kawasan Asia, seiring pelaku pasar mengalihkan dananya ke aset safe haven, seperti emas hingga obligasi pemerintah.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 21,87 poin atau 2,62 persen ke posisi 812,49.
“Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, memicu perang terbuka dan membuat investor global cenderung menghindari aset-aset yang berisiko," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, Ratna mengatakan kenaikan harga minyak mentah juga memicu kekhawatiran terhadap potensi meningkatnya inflasi yang apabila berlangsung lama dapat mendorong potensi kenaikan suku bunga di tingkat global.
"Namun, mayoritas saham-saham terkait energi dan tambang emas membukukan penguatan, sehingga menahan pelemahan IHSG lebih lanjut," ujar Ratna.
Dari data ekonomi dalam negeri, data inflasi Indonesia meningkat menjadi 0,68 persen month to mont (mtm) pada Februari 2026, dari sebelumnya deflasi 0,15 persen (mtm) pada Januari 2026.
Kenaikan inflasi terutama dikontribusikan oleh kenaikan Kelompok Pengeluaran Makanan, Minuman dan Tembakau, yang menjadi komoditas penyebab utama andil inflasi di setiap momen Ramadan.
Adapun, inflasi tahunan berakselerasi menjadi 4,76 persen year on year (yoy) pada Februari 2026 dari sebelumnya 3,55 persen (yoy) pada Januari 2026, serta merupakan level tertinggi sejak Maret 2023. Kenaikan itu disebabkan oleh adanya diskon tarif listrik pada awal 2025 dan telah menekan harga tahun lalu.
Sementara itu, surplus neraca perdagangan turun menjadi 0,95 miliar dolar AS pada Januari 2026 dari sebelumnya 3,49 miliar dolar AS pada Januari 2025, akibat kenaikan impor sebesar 18,21 persen (yoy) dan ekspor hanya tumbuh 3,39 persen (yoy).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!