Gelombang Tinggi Mengintip Perairan Sumut
📅 Senin, 02 Mar 2026, 12:58 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA - Para warga dan nelayan yang banyak beraktivitas di perairan Sumut mesti mewaspadai gelombang tinggi. Sebab Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya agar mewaspadai potensi terjadinya gelombang tinggi di sejumlah perairan Sumatera Utara yang dapat mengganggu pelayaran.
"Gelombang tinggi tersebut berpotensi terjadi mulai 2 hingga 5 Maret 2026. Gelombang laut dapat mencapai 1,25 hingga 2,5 meter," kata Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Belawan Dasmian Sulviani di Medan, Senin.
Ia menyebutkan pola angin di wilayah Sumatera Utara bergerak dari arah barat-utara dengan kecepatan 4-25 knot. Secara umum kondisi cuaca di perairan Sumatera Utara berawan hingga hujan ringan.
Gelombang tinggi tersebut berpeluang terjadi di perairan timur Kepulauan Nias, perairan Kepulauan Batu, Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, perairan barat Kepulauan Nias, perairan barat Kepulauan Batu, dan perairan barat Sumatera Utara.
Kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan pelayaran terhadap perahu nelayan jika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter. Demikian juga dengan kapal tongkang jika kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,5 meter.
Cuaca Ekstrem NTB
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir serta angin kencang di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) selama sepekan ke depan.
Prakirawan Stasiun Meteorologi BMKG NTB Rafa Zafirah Istiqomah mengatakan cuaca ekstrem itu diprakirakan berlangsung mulai 2 hingga 8 Maret 2026. "Selama tujuh hari ke depan, cuaca NTB umumnya diprakirakan cerah berawan hingga hujan lebat," kata dia di Mataram, Senin.
Rafa menuturkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi disertai sambaran petir dan angin kencang dengan kecepatan maksimum mencapai 35 kilometer per jam.
Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, hingga Kota Bima.
Berdasarkan analisa BMKG, dinamika atmosfer yang memicu kondisi cuaca ekstrem tersebut antara lain kemunculan pusat tekanan rendah dan bibit siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia.
Bibit siklon tropis 90S terpantau berada di Samudera Hindia sebelah barat daya Pulau Jawa yang perlahan bergerak ke arah timur. Sedangkan, pusat tekanan rendah muncul di Teluk Carpentaria, Australia. Selain bibit badai tropis dan pusat tekanan rendah ada pula konvergensi dan belokan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan di Nusa Tenggara Barat.
Berbagai fenomena gangguan atmosfer tersebut berpotensi menimbulkan gelombang tinggi di sejumlah perairan selatan NTB yang dapat mencapai dua meter atau lebih, terutama Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, Selat Sape bagian selatan, perairan selatan Sumbawa, serta Samudra Hindia selatan NTB.
Selama periode 2-8 Maret 2026, suhu udara di NTB diprediksi berkisar antara 22 hingga 32 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan udara relatif tinggi mencapai 62 hingga 100 persen. "Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak cuaca ekstrem, terutama saat pagi hingga dini hari," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!