Serbuan Pikap India Bisa Gerus Daya Saing Industri Nasional
📅 Selasa, 24 Feb 2026, 22:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai rencana impor 105 ribu unit mobil pikap dari India berpotensi menekan daya saing industri otomotif nasional, terutama di segmen kendaraan niaga ringan yang selama ini mulai menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Masuknya produk impor dalam jumlah besar dikhawatirkan akan mempersempit ruang pasar bagi produsen dalam negeri dan menekan utilisasi kapasitas pabrik lokal.
Secara analitis, lonjakan impor dapat mengganggu struktur industri yang tengah diarahkan pada penguatan rantai pasok domestik dan peningkatan kandungan lokal.
Selain berisiko memperlebar defisit neraca perdagangan sektor otomotif, kebijakan ini juga berpotensi menghambat investasi baru serta memperlambat ekspansi industri komponen nasional.
Kadin menekankan pentingnya kebijakan perdagangan yang selaras dengan agenda industrialisasi dan perlindungan terhadap sektor strategis yang sedang tumbuh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Mufti Mubarok dalam pernyataan di Jakarta, Selasa (24/2), menyampaikan masuknya kendaraan impor dalam jumlah besar berisiko menekan produsen otomotif lokal yang saat ini menunjukkan tren pertumbuhan positif dari sisi produksi, investasi, maupun penyerapan tenaga kerja.
“Saat ini, industri dalam negeri sedang bertumbuh dan membutuhkan dukungan, bukan tekanan dari produk impor dalam skala besar,” ujar Mufti.
Mufti menegaskan, industri otomotif nasional sebenarnya memiliki kapasitas produksi yang memadai untuk memenuhi kebutuhan domestik, termasuk kendaraan niaga ringan seperti pikap yang banyak digunakan oleh sektor UMKM, logistik, dan pertanian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah dinilai perlu memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri guna memperkuat ekosistem industri nasional.
Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan impor skala besar berpotensi menurunkan tingkat utilisasi pabrik dalam negeri, menghambat masuknya investasi baru, serta berdampak pada penyerapan tenaga kerja di sektor otomotif.
“Industri otomotif nasional memiliki rantai pasok yang panjang, mulai dari manufaktur, komponen, hingga distribusi. Jika pasar domestik dibanjiri produk impor, maka dampaknya akan dirasakan oleh seluruh ekosistem industri,” katanya menjelaskan.
Selain itu, Kadin meminta agar setiap kebijakan impor dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap industri nasional dalam jangka panjang.
“Kemandirian industri otomotif merupakan bagian penting dari ketahanan ekonomi nasional. Oleh karena itu, kebijakan harus berpihak pada penguatan industri dalam negeri,” kata Mufti.
Kadin berharap pemerintah membuka dialog dengan pelaku industri dan para pemangku kepentingan sebelum mengambil keputusan strategis yang berdampak luas terhadap sektor otomotif nasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!