Lukisan Gua Tertua di Pulau Muna Ubah Sejarah Seni Manusia
📅 Selasa, 03 Feb 2026, 06:57 WIB | Oleh: Haryo BronoSepanjang abad ke-20, kajian arkeologi kerap menempatkan Eropa terutama Prancis dan Spanyol sebagai pusat lahirnya seni manusia purba. Lukisan gua di Lascaux dan Altamira menjadi ikon awal kreativitas manusia. Namun, temuan dari Indonesia, khususnya Sulawesi, secara bertahap menggugurkan pandangan yang bersifat euro-sentris tersebut.
Setelah lukisan gua di Maros–Pangkep sempat mengejutkan dunia, temuan dari Pulau Muna kini semakin menegaskan bahwa Asia Tenggara merupakan salah satu pusat utama perkembangan seni manusia purba. Penemuan ini menunjukkan bahwa kemampuan artistik dan simbolik manusia tidak muncul secara tunggal di satu wilayah, melainkan berkembang secara relatif bersamaan di berbagai belahan dunia.
Petunjuk Migrasi
Keberadaan seni cadas berusia hampir 68 ribu tahun di Muna juga memiliki implikasi besar terhadap studi migrasi manusia modern (Homo sapiens). Pulau Muna berada di wilayah Wallacea, zona peralihan biogeografis antara Asia dan Australia yang secara geografis penuh tantangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Orang-orang yang membuat seni paling awal di Sulawesi ini adalah bagian dari populasi manusia modern yang sama yang kemudian mengolonisasi Australia sekitar 65.000 tahun yang lalu,” kata Brumm.
Fakta bahwa manusia purba telah menghuni wilayah ini dan menghasilkan seni menunjukkan bahwa mereka bukan hanya mampu menyeberangi lautan dan beradaptasi dengan lingkungan baru, tetapi juga telah membangun kehidupan sosial dan budaya yang kompleks.
Seni, menurut para ahli, umumnya muncul dalam masyarakat yang telah memiliki struktur sosial, komunikasi simbolik, serta sistem kepercayaan. Dengan demikian, lukisan ini menjadi bukti bahwa manusia purba di Nusantara telah mencapai tahap perkembangan budaya yang tinggi jauh lebih awal dari dugaan sebelumnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih dari Sekadar Lukisan
Lukisan gua di Liang Metanduno bukan sekadar artefak arkeologis, melainkan jejak awal kemanusiaan. Lukisan ini merekam momen ketika manusia mulai meninggalkan tanda keberadaannya bukan hanya melalui alat batu atau tulang belulang, tetapi lewat simbol dan seni.
Penemuan tersebut mengingatkan bahwa kebutuhan manusia untuk mengekspresikan diri, memberi makna, dan berkomunikasi secara simbolik telah menjadi bagian dari identitas manusia sejak puluhan ribu tahun lalu.
Dari dinding gua Pulau Muna, dunia kini belajar bahwa akar seni dan budaya manusia tidak hanya tumbuh di Eropa, tetapi juga di Nusantara—wilayah yang selama ini kerap berada di pinggiran peta sejarah global.
Gambar kuno tersebut juga membuka kemungkinan perbedaan kemampuan artistik antara Neanderthal dan manusia modern awal. Tahun lalu, stensil tangan yang dibuat oleh Neanderthal lebih dari 66.000 tahun lalu ditemukan di sebuah gua di Spanyol.
Meski termasuk karya seni paling canggih yang pernah dihasilkan Neanderthal, manusia modern awal memulai dengan stensil tangan dan kemudian menciptakan karya kompleks seperti lukisan di Gua Chauvet, Prancis, yang dipenuhi ratusan gambar rumit berusia antara 37.000 hingga 32.000 tahun. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!