Keran Siap Minum, Air Kotor Kini Disulap Jadi Jernih dan Aman Dikonsumsi
📅 Kamis, 29 Jan 2026, 11:27 WIB | Oleh: Yebdi TrismarSangat dibutuhkan
Sejak pertengahan Januari 2026, kehadiran unit Reverse Osmosis di SDN 1 Tualang Cut menjadi penopang penting aktivitas sekolah pascabanjir besar.
Pelaksana Tugas Kepala SDN 1 Tualang Cut, Eva Yanti, menyatakan sejak air siap minum tersedia di sekolah, kebutuhan dasar siswa dan guru mulai terpenuhi. Di tengah keterbatasan pembelajaran, keran itu menjadi simbol awal pemulihan.
Air bersih dan layak minum memberi rasa aman bagi anak-anak yang kembali ke sekolah setelah trauma banjir. Bagi Eva, kehadiran RO bukan sekadar fasilitas, melainkan suntikan semangat agar proses belajar bisa kembali berjalan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sekolah ini mulai beroperasi kembali pada 5 Januari 2026. Ruang kelas belum sepenuhnya pulih, sebagian pembelajaran masih berlangsung di lantai sekolah yang dibersihkan seadanya dari sisa lumpur.
Di masa pemulihan, fokus utama pembelajaran diarahkan pada trauma healing. Anak-anak diajak bercerita tentang pengalaman banjir, mengekspresikan rasa takut, sekaligus mengambil pelajaran dari peristiwa yang mereka alami.
Kegiatan belajar mengajar tetap disisipkan secara perlahan. Menulis, membaca, dan aktivitas ringan dilakukan tanpa tekanan agar kondisi psikologis siswa pulih seiring waktu.
Jam belajar pun disesuaikan. Siswa masuk pukul 07.30 WIB dan pulang pukul 11.00 WIB, sementara kelas satu dipulangkan lebih awal. Kebijakan ini mengikuti arahan Dinas Pendidikan Aceh Tamiang.
Dari total 324 siswa, belum semuanya kembali ke sekolah. Sebagian masih mengungsi ke luar daerah karena rumah mereka rusak berat atau hancur akibat banjir.
Kondisi sekolah saat banjir tergolong sangat parah. Lumpur setinggi betis memenuhi halaman dan ruang kelas, merusak meja, kursi, serta peralatan elektronik di kantor sekolah.
Pembersihan dilakukan secara gotong royong melibatkan mahasiswa, TNI, Polri. Perabot yang rusak berat dimusnahkan, sementara yang masih bisa diperbaiki dikumpulkan untuk digunakan kembali.
Di tengah keterbatasan fasilitas, seragam sekolah mulai kembali dikenakan. Sekitar 80 persen siswa sudah memakai merah putih, sisanya masih menggunakan pakaian bebas karena seragam mereka terbawa banjir.
Proses belajar mengajar saat ini diperkirakan telah berjalan sekitar 75 persen. Debu, sisa lumpur, dan keterbatasan sarana masih menjadi tantangan yang dihadapi setiap hari.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!