Sinergi Fiskal dan Moneter Harus Topang Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
📅 Rabu, 28 Jan 2026, 01:11 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: KORAN JAKARTA/M FACHRI
JAKARTA - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru terpilih, Thomas Djiwandono mengaku akan memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter pada level likuiditas dan suku bunga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menurut Thomas, inisiatif yang yang dia gagas tersebut berbeda dengan sebelumnya oleh dua otoritas, yaitu pembagian beban (burden sharing) pada masa pandemi Covid-19.
“Hal yang saya ingin cetuskan adalah sinergi fiskal-moneter, khususnya di level likuiditas dan suku bunga. Ini fundamentally berbeda dengan apa yang dilakukan saat pandemi,” kata Thomas.
Saat ini, Indonesia kata Thomas tengah berupaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, diperlukan sinergi fiskal-moneter yang sedikit berbeda dibandingkan masa pandemi.
Mengutip Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), Thomas menyampaikan bahwa tugas pengelolaan likuiditas oleh bank sentral tidak hanya terkait dengan kebijakan moneter tetapi juga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengakui kalau kebijakan moneter BI selama ini sangat akomodatif, ditandai dengan penurunan suku bunga (BI-Rate) yang signifikan yakni 6,25 persen pada 2024 menjadi 4,75 persen. Namun, masih terjadi time lag transmisi penurunan BI-Rate.
Untuk penurunan satu persen BI-Rate, Thomas mencatat bahwa bunga kredit modal kerja turun 0,27 persen dalam 6 bulan dan paling banyak 0,59 persen dalam 3 tahun.
“Artinya, transmisi dampak kebijakan membutuhkan waktu lama dan tidak sepenuhnya dapat ditransmisikan. Karena itu saya merasa perlu sinergi kebijakan dengan fiskal dan otoritas keuangan,” kata Thomas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Thomas memandang, sinergi fiskal dan moneter sebenarnya sudah terbangun dengan baik selama ini. Namun, sinergi itu bisa semakin diperkuat terutama melalui forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
“Jadi, sinergi ini penting dalam menghadapi risiko. Kalau kita melihat kilas ke belakang di masa Covid-19, di situ ada burden sharing yang sangat membantu kita dan di mana Kemenkeu juga melakukan ekspansi fiskalnya. Tapi saat ini ada program-program pemerintah yang didukung oleh semua lembaga yang masuk dalam KSSK,” kata Thomas.
Stabilisasi Nilai Tukar
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan tantangan yang dihadapi Deputi Gubernur BI terpilih Thomas Djiwandono tidak ringan yakni menstabilkan nilai tukar rupiah dan memperkuat koordinasi kebijakan moneter-fiskal.
“Salah satu persoalan paling nyata saat ini adalah pelemahan nilai tukar rupiah,” ungkapnya kepada Antara di Jakarta, Selasa (27/1).
Namun, demikian, pelemahan rupiah tersebut tak berdiri sendiri, melainkan hasil dari kombinasi berbagai faktor. Beberapa di antaranya ialah peningkatan tensi geopolitik global pada awal tahun sehingga mendorong ketidakpastian pasar, serta persoalan struktural di dalam negeri yang memicu keluarnya aliran modal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!