Mengenal Pelatihan TFG dalam Operasional Layanan Haji, Cari Tahu Yuk!
📅 Senin, 26 Jan 2026, 18:14 WIB | Oleh: OpikPemaparan TFG itu hanyalah langkah awal. Pemahaman petugas akan terus diasah melalui tahapan-tahapan berikutnya yang lebih konkret. TFG memberikan kerangka berpikir logis dan spasial, yang kemudian akan diturunkan ke dalam simulasi teknis.
"TFG ini menjadi gambaran awal bagi para petugas dalam memahami tugas-tugas ke depan. Nantinya, baik dalam kegiatan maket maupun gladi posko, tugas dan fungsi tersebut akan semakin diperdalam dan difungsikan secara nyata di lapangan," kata Letkol Inf Surnadi.
Kegiatan gladi posko dan simulasi maket akan membawa peserta lebih dekat pada realitas lapangan. Di sana, skenario-skenario spesifik akan diuji. Misalnya, bagaimana jika terjadi penumpukan di halte bus Shalawat atau bagaimana alur evakuasi jika ada jamaah pingsan di terowongan Mina.
Semua skenario itu berakar dari pemahaman dasar yang dibangun melalui TFG. Mekanisme pergerakan petugas dan skema pergerakan massal jamaah menjadi materi krusial yang disimulasikan berulang kali hingga menjadi memori otot bagi para petugas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagian paling penting dari materi TFG adalah strategi menghadapi fase Armuzna. Ini adalah fase kritis dalam ibadah haji, di mana jutaan jamaah bergerak serentak dalam waktu yang sangat terbatas dan di ruang yang sangat sempit. Di sinilah TFG memainkan peran.
Musuh utama di Armuzna bukanlah jarak, melainkan waktu. Pergerakan di Armuzna adalah rantai kegiatan yang tidak boleh putus. Keterlambatan di satu titik akan menyebabkan efek domino berupa kemacetan di titik lainnya.
Alur pergerakan yang harus dikawal ketat oleh petugas yaitu mulai dari pergerakan jamaah dari sektor-sektor pemondokan di Makkah menuju Arafah untuk wukuf, pergeseran dari Arafah ke Muzdalifah untuk mabit atau bermalam, lalu mobilisasi dari Muzdalifah ke Mina.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di Mina, tantangan berlanjut dengan pergerakan harian jamaah menuju Jamarat untuk melontar jumrah, hingga akhirnya kembali ke Makkah untuk melaksanakan tawaf ifadah.
Dalam konteks ini, TFG mengajarkan petugas untuk menghitung estimasi waktu dengan presisi. Kapan petugas harus mulai bersiap, kapan bus pertama harus berangkat, berapa lama waktu loading dan unloading jamaah, semua variabel tersebut diperhitungkan.
Bagi petugas, ini bukan sekadar mengantar jamaah, melainkan mengawal dan mengawasi setiap detik pergerakan agar sesuai dengan skenario yang telah ditetapkan pemerintah Arab Saudi dan misi haji Indonesia.
Salah satu tantangan klasik dalam operasional haji adalah koordinasi di Mina. Wilayah yang sempit dengan kepadatan manusia yang ekstrem seringkali membuat batas tanggung jawab antarpetugas menjadi kabur. Melalui perencanaan berbasis TFG, kekacauan koordinasi tersebut dapat dieliminasi. Penempatan petugas harus dilakukan secara maksimal agar tidak terjadi tumpang tindih tugas, khususnya di Mina
Istilah "tumpang tindih" merujuk pada situasi di mana satu area dijaga oleh terlalu banyak petugas sementara area lain kosong, atau kebingungan mengenai siapa yang berwenang mengambil keputusan di satu titik krusial. Dengan pemetaan sistematis yang dilakukan dalam TFG, setiap jengkal wilayah kerja di Mina telah memiliki penanggung jawab yang spesifik.
Ini berarti, sebelum berangkat ke Tanah Suci, seorang petugas Perlindungan Jemaah (Linjam), petugas kesehatan, atau petugas layanan lainnya, sudah tahu persis di pos nomor berapa ia akan berdiri di jalur Jamarat, dan pada jam berapa ia harus berjaga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!