Meski Sudah Swasembada Beras, Fundamental Kemandirian Pangan RI Masih Rapuh
📅 Selasa, 13 Jan 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiMemfokuskan narasi keberhasilan hanya pada beras justru mempersempit makna ketahanan pangan. Ketahanan pangan yang sejati seharusnya diukur dari kemampuan negara menyediakan beragam sumber pangan yang sesuai dengan budaya lokal.
“Jika kita swasembada beras tetapi masih mengimpor gandum, kedelai, atau gula secara masif, maka fundamental kemandirian pangan kita sebenarnya masih rapuh. Terlalu dini menyebut sektor pangan kita “tangguh” jika kita masih terjebak dalam ketergantungan pada satu komoditas tunggal (single commodity dependence),” ungkap Muliarta.
Klaim swasembada beras jelasnya cenderung melihat pangan dari sisi kuantitas (ketersediaan), namun mengabaikan sisi distribusi dan kualitas. Swasembada secara nasional tidak menjamin bahwa penduduk di pelosok memiliki akses harga yang sama dengan penduduk di pusat produksi.
“Pangan yang menumpuk di satu daerah tanpa sistem logistik yang efisien tetap akan menciptakan kerentanan pangan di daerah lain,”tegasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketahanan pangan yang berkualitas tegasnya harus mencakup aspek keamanan pangan (food safety) dan keragaman nutrisi. Keberhasilan pangan yang sesungguhnya adalah ketika angka stunting menurun dan kualitas konsumsi protein serta mikronutrien masyarakat meningkat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!