Menteri Perdagangan G20 Gagal Capai Konsensus untuk Menentang Kelebihan Produksi
📅 Jumat, 02 Okt 2026, 09:10 WIB | Oleh: Tim PenulisMILWAUKEE - Para menteri perdagangan G20 menemui jalan buntu dalam mengatasi kelebihan kapasitas industri, kata pejabat perdagangan senior AS, Jamieson Greer, Kamis (1/10), tuduhan yang sering dilayangkan kepada Tiongkok yang menolak kritik tersebut.
Komentar-komentar tersebut disampaikan saat para menteri perdagangan dari Kelompok 20 negara ekonomi utama bertemu pada hari kedua di kota Milwaukee, wilayah Midwest AS. Amerika Serikat memegang jabatan presiden bergilir G20 tahun ini.
Para menteri gagal mencapai kesepakatan di seluruh kelompok mengenai kelebihan kapasitas, yang dianggap menurunkan harga secara tidak adil, dan mengenai penghapusan kerja paksa dalam rantai pasokan, kata Greer.
"Hampir semua negara sepakat bahwa ini adalah masalah yang membutuhkan tindakan," kata Greer dalam konferensi pers, merujuk pada kelebihan kapasitas. Dia tidak menjawab pertanyaan apakah ini disebabkan oleh keberatan Tiongkok.
"Dan hampir semua negara sepakat bahwa sistem tindakan atau respons perdagangan kita saat ini tidak memadai untuk menyelesaikan masalah ini," katanya. Ia mengatakan bahwa hal ini membenarkan tindakan unilateral AS.
Saat ini AS sedang melakukan investigasi terhadap 16 negara terkait kelebihan kapasitas, yang menargetkan Tiongkok, Uni Eropa, Jepang, India, dan negara-negara lainnya.
Greer memperingatkan bahwa negara-negara yang memproduksi secara berlebihan berisiko "menciptakan ekonomi yang bertumpu pada bangunan yang rapuh."
Trump juga baru-baru ini memberlakukan tarif pada 60 mitra dagang karena dugaan masalah kerja paksa -- isu lain yang gagal disepakati oleh G20.
Namun, negara-negara G20 mencapai konsensus menentang "penggunaan pangan sebagai senjata melalui tindakan perdagangan yang bersifat memaksa," kata Greer.
Suasana memanas terkait isu tersebut dalam pertemuan dua hari itu ketika para pejabat Eropa mengkritik serangan Russia yang berdampak pada ekspor gandum Ukraina.
Moskow dan Kyiv telah terlibat perang sejak invasi Russia ke negara tetangganya pada tahun 2022.
Serangan Russia dan Ukraina yang menargetkan pelabuhan Laut Hitam telah menghancurkan dan melumpuhkan kapasitas ekspor pertanian lebih cepat daripada pemulihan arus perdagangan.
Menteri delegasi Prancis untuk perdagangan internasional, Nicolas Forissier, mengatakan kepada AFP pada hari Kamis bahwa para pejabat Eropa, termasuk dirinya sendiri dan perwakilan Jerman dan Inggris di G20, mengkritik Russia atas masalah tersebut.
"Kita harus mengatakan apa yang kita pikirkan, terutama tentang penggunaan makanan sebagai senjata," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!