Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Junta Myanmar Gelar Pemilu Setelah Lima Tahun Perang Saudara

📅 Minggu, 28 Des 2025, 09:17 WIB | Oleh: Tim Penulis
Junta Myanmar Gelar Pemilu Setelah Lima Tahun Perang Saudara Doc: AFP
Ket. Seorang wanita (kiri) bersiap untuk memberikan suara di tempat pemungutan suara selama fase pertama pemilihan umum Myanmar di Yangon pada 28 Desember 2025.

YANGON - Sejumlah kecil pemilih mendatangi tempat pemungutan suara di Myanmar yang sangat dibatasi pada hari Minggu (28/12).

Mantan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi tetap dipenjara, sementara partainya yang sangat populer telah dibubarkan dan tidak ikut serta.

Para aktivis, diplomat Barat, dan kepala hak asasi manusia PBB semuanya mengecam pemungutan suara bertahap selama sebulan tersebut, dengan alasan bahwa daftar pemilihnya didominasi oleh sekutu militer dan adanya penindakan keras terhadap siapa saja yang berbeda pendapat.

Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan (Union Solidarity and Development Party/UNDP) yang pro-militer diperkirakan secara luas akan muncul sebagai partai terbesar, yang akan menjadi upaya pencitraan ulang pemerintahan militer, menurut para kritikus.

Top of Form

Bottom of Form

Negara Asia Tenggara berpenduduk sekitar 50 juta jiwa ini dilanda perang saudara. Selama pemilu, Junta tidak menggelar pemungutan suara di wilayah yang dikuasai pemberontak.

Di wilayah yang dikuasai junta, putaran pertama dari tiga putaran dimulai pukul 6 pagi (7.30 pagi, waktu Singapura), termasuk di daerah pemilihan di kota Yangon, Mandalay, dan ibu kota Naypyidaw.

"Pemilu ini sangat penting dan akan membawa yang terbaik bagi negara," kata Bo Saw, pemilih pertama di tempat pemungutan suara di Distrik Kamayut, Yangon, dekat rumah kosong Aung San Suu Kyi.

"Prioritas utama seharusnya adalah memulihkan situasi yang aman dan damai," kata pria berusia 63 tahun itu kepada AFP.

Pada pemilihan terakhir tahun 2020, antrean panjang pemilih terbentuk di luar tempat pemungutan suara yang dinyatakan batal oleh militer beberapa bulan kemudian ketika mereka menggulingkan Aung San Suu Kyi dan merebut kekuasaan.

Namun kali ini, wartawan dan petugas pemilu melebihi jumlah pemilih awal di sebuah TPS di pusat kota dekat Pagoda Sule yang berkilauan - lokasi protes pro-demokrasi besar-besaran setelah kudeta.

Di antara segelintir pemilih awal, Swe Maw yang berusia 45 tahun menepis kritik internasional.

"Itu bukan masalah penting," katanya. "Selalu ada orang yang suka dan tidak suka."

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Nasional
PT Pertamina Hulu Indonesia...
Nasional
KRI Nala evakuasi korban ke...
Daerah
BNPB: Tanggul Jebol Picu Ba...

Lorong Bendera Merah Putih di Tasikmalaya

52 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Lorong Bendera Merah Putih ...

Pelatihan pembuatan roti dan kue di Jakarta

57 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Pelatihan pembuatan roti da...

Bau Badan Menyengat, Seorang Penumpang Transjakarta Diturunkan di Kampung Melayu, Manusiawikah?

Bau Badan Menyengat, Seorang Penumpang Transjakarta Diturunkan di Kampung Melayu, Manusiawikah?

04 Aug 2026
Pilihan Pembaca
# 6
# 6
Defisit Migas Tekan Neraca Perdagangan
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.