Realisasi Belanja Tidak Optimal, Ekonomi RI Lebih Buruk dari yang Dibayangkan
📅 Senin, 22 Des 2025, 01:14 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Realisasi belanja negara hingga akhir November 2025 masih tertinggal dari target, memunculkan kekhawatiran atas pelemahan kinerja ekonomi nasional. Hingga 30 November 2025, belanja negara baru mencapai 2.911 triliun rupiah atau sekitar 82,5 persen dari target belanja dalam outlook Laporan Semester (Lapsem).
Dengan capaian tersebut, Pemerintah masih menyisakan anggaran sekitar 616,4 triliun rupiah yang harus dibelanjakan dalam waktu kurang dari satu bulan hingga tutup tahun.
Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Iyuk Wahyudi, menilai rendahnya realisasi belanja negara mencerminkan kondisi ekonomi yang tidak sekuat asumsi awal. Persoalan itu jelasnya bukan sekadar soal teknis penyerapan anggaran, efek kebijakan efisiensi yang terkesan gamang sejak era pasca pandemi, melainkan indikasi masalah struktural yang lebih dalam pada mesin ekonomi nasional.
“Kalau belanja negara tersendat, itu berarti ada roda ekonomi yang tidak berputar optimal. Padahal, dalam situasi global yang tidak pasti, belanja Pemerintah justru menjadi penopang utama pertumbuhan,” kata Iyuk kepada Koran Jakarta, Minggu (21/12).
Ia menilai perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini bukan fenomena sesaat. Menurut Iyuk, tanda-tanda pelemahan sebenarnya sudah terlihat sejak 2023, meski tidak langsung terbaca secara kasat mata.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Ada semacam jebakan ekonomi. Secara angka terlihat masih tumbuh, tetapi kualitas pertumbuhan melemah dan daya dorongnya makin kecil,” katanya.
Iyuk menegaskan Indonesia tidak bisa terus bergantung pada kondisi global untuk menopang perekonomian domestik. Ketidakpastian ekonomi dunia, konflik geopolitik, serta perlambatan negara-negara besar membuat strategi mengandalkan eksternal menjadi semakin berisiko.
“Kita harus memperbaiki dari dalam dengan menghidupkan seluruh mesin ekonomi domestik sebagai kuncinya,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Iyuk, jika Indonesia benar-benar ingin keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan menjadi negara maju, pertumbuhan ekonomi tidak bisa lagi moderat.
Ia menilai diperlukan pertumbuhan dua digit yang konsisten dalam jangka panjang. “Negara maju tidak dibangun dengan pertumbuhan lima atau enam persen. Dibutuhkan lompatan besar dan konsisten,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter ke depan. Iyuk menilai, ketidaksinkronan peran antara fiskal dan moneter dapat membuat stimulus ekonomi tidak efektif.
“Tidak boleh ada kebijakan yang berjalan sendiri-sendiri. Fiskal dan moneter harus saling menguatkan secara proporsional. Ibarat laju kendaraan, ada peran ngegas, ada yang bertugas mengerem. Namun dua-duanya harus dijalankan secara tepat sasaran dan tepat momentum. Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan yang memerankan kedua peran tersebut harus menguatkan sinergitas dan koneksitas yang bertanggungjawab.
Dengan sisa anggaran ratusan triliun rupiah yang harus direalisasikan hingga akhir tahun, Iyuk mengingatkan pemerintah agar tidak hanya mengejar serapan, tetapi memastikan belanja tersebut benar-benar berdampak pada penguatan ekonomi riil.
“Yang terpenting bukan seberapa cepat dihabiskan, tapi seberapa besar dampaknya untuk menggerakkan ekonomi dan memulihkan kepercayaan. Fokus dan prioritaskan pengalokasian anggaran kepada program-program yang bersifat produktif, bernilai tambah, dan mampu memberikan multyplier effect yang lebih luas,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!