Pertumbuhan Harus Berkualitas Tinggi untuk Mampu Bertahan dan Lepas dari “Middle Income Trap”
📅 Kamis, 18 Des 2025, 01:45 WIB | Oleh: Tim Redaksi“Kita jadi tempat orang menggali mineral saja, lalu kita mengundang investor juga karena biaya kerja murah, apa nilai tambahnya.Kita akan mati juga suatu waktu.Kita tidak punya daya saing apa-apa. Makin jauh tertinggal,” kata Siprianus.
Industri perkebunan jelasnya tidak ada yang fight untuk berjuamh menjadi mandiri pangan. Selalu canangkan swasembada pangan tapi pencanangan tidak demikian.“Sampai kapan kita bertahan kalau jual tambang dan CPO.Itu karena cuaca kita yang tropis.Tanaman seperti itu tidak usah dirawat juga tumbuh,” katanya.
Sawit jelasnya merupakan tanaman yang paling malas buat suatu negara hanya karena cuaca.Berapa lama kita bisa bertahan,tidak ada otoritas berwenang yang mikir bagaimana kita bersaing di dunia.Jangan kan itu untuk pangan nasional saja akurat tidak mampu.Kalau negara lain sudah teknologi chip coba berapa jauh kita tertinggal.
“Sekitar 30 tahun lalu Tiongkok jangankan bikin chip, yang teknologi sederhana saja tidak bisa. Tahun 2000-an kita lebih maju dari RRT dari industri dasar. Kalau tidak diproteksi baja kita habis,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Apa yang dilakukan Pemerintah selama 25 tahun dengan membangun hotel pencakar langit dan menimpor pangan itu semuanya konsumtif, dan itu lah yang didorong Pemerintah.Kenapa tumbuh 6 persen karena konsumsi semua. Padahal, kalau pertumbuhan dari konsumsi tidak akan bertahan, karena kehabisan uang.
“Tumbuh dari konsumsi sedangkan sektor riil mati perlahan kan kehabisan devisa.sampai sawah yang subur dikonversi menjadi real estate,” pungkas Siprianus.
Ia juga menyayangkan, Indonesia tidak memanfaatkan kredit murah saat quantitative easing beberapa tahun lalu. Sayang, kesempatan itu digunakan untuk konsumsi yang tidak produktif, membeli barang impor Tiongkok yang murah, yang di negara asalnya merupakan kelebihan produksi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Surplus Tiongkok
Sebuah laporan Chanel News Asia baru-baru ini menyebutkan bagaimana Generasi Z dari Indonesia dan negara-negara Asia lain dirugikan oleh surplus Tiongkok sebesar 1 triliun dollar AS. Asia menghadapi pukulan ganda: basis ekspor yang semakin tertekan oleh barang murah dari Tiongkok dan perang dagang yang dikobarkan Presiden AS Donald Trump.
Hal ini membuat frustasi generesai muda yang sudah berjuang karena upah mereka stagnan dan biaya hidup yang melambung tinggi. Mereka harus menghadapi kenyataan bahwa pekerjaan manufaktur yang mendorong kemakmuran orang tua mereka sulit ditemukan. Sebagaimana diketahui, Tiongkok telah meningkatkan investasi di sektor manufaktur untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi karena permintaan domestik stagnan dan sektor properti terus lesu.
Surplus tahun ini mencapai 1 triliun dollar AS meski ekspor ke AS semakin anjlok. Akibatnya, ekspor Tiongkok membanjiri perekonomian negara- negara tetangga dan memicu keresahan. Contoh terbaru tingginya kualitas pertumbiuhan ekonomi Tiongkok bida dilihat dari go public-nya saham produsen Cip AI asal Tiongkok, MetaX yang diburu investor dunia dan mengalami kelebihan permintaan hingga 3000 kali lipat.
Harganya melonjak dari 104 yuan saat IPO menjadi 829 yuan pada penutupan. Sedangkan Indonesia terlalu membangga-banggakan unicorn yang sebagian besar barangnya dari luar negeri, sedikit sekali produksi dalam negeri. Jadi Indonesia membangun jalan tol untuk melancarkan barang-barang dari luar negeri masuk ke seluruh pelosok Nusantara, bukan untuk produksi Indonesia ke luar negeri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!