Kenapa Ya, Menteri Perindustrian Amat Memanjakan Industri Otomotif
📅 Selasa, 02 Des 2025, 13:05 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Masih ingat di era Covid-19 Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita minta pemerintah memberi perhatian (insentif) ke industri otomotif. Kini dia kembali mengupayakan agar industri otomotif nasional tetap mendapatkan insentif tahun depan. Alasannya, mengingat sektor tersebut memiliki dampak berkelanjutan (multiplier effect) yang besar.
Ada pertanyaan rakyat mengapa Agus begitu getol memanjakan industri otomotif. Ada apa ya? Kan banyak yang mesti ditangani, tak hanya otomotif. Industri kecil, industri menangah, rasanya jauh lebih memerlukan insentif.
Menurutnya, otomotif merupakan sektor yang sangat penting, terlalu penting untuk kita abaikan, tidak mungkin kita abaikan. Forward, backward linkage yang luar biasa besar, penyerapan tenaga kerjanya juga luar biasa besar, nilai tambah untuk ekonominya juga luar biasa besar. Dan oleh sebab itu, kami akan tetap mengusulkan insentif atau stimulus kepada pemerintah untuk sektor otomotif. industri lain juga tidak bisa diabaikan. Ada apa ya kok memanjakan sekali industri otomotif.
Disampaikan dia, sektor tersebut membutuhkan stimulus mengingat saat ini tengah mengalami kontraksi atau penurunan. Dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil selama Januari-Oktober 2025 secara wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) hanya sebanyak 634.844 unit. Angka itu turun 10,6 persen dibanding tahun lalu yang mencapai 711.064 unit. Sedangkan secara retail sales (penjualan dari dealer ke konsumen) tercatat sebanyak 660.659 unit pada Januari-Oktober 2025. Angka itu turun 9,6 persen dari tahun lalu yang mencapai 731.113 unit.
Menurut Menperin, insentif yang sedang disiapkan pihaknya ini mencakup sisi permintaan (demand) maupun sisi persediaan (supply). "Oleh sebab itu, merupakan tanggung jawab kami. Hal yang salah kalau kami tidak perjuangkan," katanya lagi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif dalam pernyataan di Jakarta, Minggu (30/11) menyatakan, saat ini memang penjualan kendaraan listrik (EV) meningkat signifikan. Penjualan EV melonjak tajam pada periode Oktober-Januari tahun 2025 dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun kenaikan penjualan ini sebagian besar berasal dari kendaraan EV impor (CBU).
Dari total penjualan kendaraan EV tahun 2025 sebesar 69,146 unit, 73 persennya merupakan kendaraan EV impor yang nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja industrinya berada di negara lain.
Sementara segmen kendaraan yang diproduksi di dalam negeri dan memiliki share terbesar dalam pasar industri otomotif nasional terus mengalami penurunan penjualan signifikan.Menurut dia, jadi keliru jika menyatakan, industri otomotif sedang dalam kondisi kuat dengan hanya mengandalkan indikator pertumbuhan kendaraan pada segmen tertentu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Adapun saat ini insentif diberikan untuk mobil listrik (BEV) yakni berupa pembebasan bea masuk dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) nol persen dengan tujuan untuk tes pasar, namun yang menikmati insentif itu kebanyakan kendaraan listrik impor.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!