Gubernur BI Warning: Penguatan Sinergi Wajib Jika Indonesia Ingin Tancap Gas di 2027
📅 Jumat, 28 Nov 2025, 22:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Widodo S. Jusuf
JAKARTA – Mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menjadi agenda strategis untuk menjaga daya saing Indonesia di tengah dinamika global yang semakin menantang.
Pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkualitas bukan hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkuat kapasitas fiskal negara untuk membiayai pembangunan jangka panjang.
Di tengah tekanan eksternal seperti perlambatan ekonomi global dan kebijakan proteksionis negara maju, akselerasi pertumbuhan diperlukan agar Indonesia tidak tertinggal dalam arus investasi dan inovasi.
Dengan memperkuat produktivitas, mendorong hilirisasi, memperluas pembiayaan sektor prioritas, serta mengoptimalkan transformasi digital, Indonesia dapat menciptakan sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan dan lebih inklusif.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa penguatan sinergi antar-pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih baik pada 2026 dan 2027.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kelima sinergi tersebut, yakni memperkuat stabilitas dan mendorong permintaan, mendorong hilirisasi, industrialisasi, dan ekonomi kerakyatan, meningkatkan pembiayaan dan pasar keuangan, mempercepat ekonomi keuangan digital nasional, serta memperkuat kerja sama investasi dan perdagangan internasional.
“Dengan sinergi itu, insya Allah, kinerja ekonomi Indonesia tahun 2026 dan 2027 akan lebih baik,” kata Perry dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Tahun 2025 di Jakarta, Jumat (28/11).
Dengan mempererat sinergi, Perry meyakini pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi, konsumsi dan investasi meningkat, ekspor positif di tengah perlambatan ekonomi dunia, hingga inflasi tetap terkendali dalam sasaran yang konsistensi kebijakan moneter, fiskal, dan sinergi ketahanan pangan nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menegaskan nilai tukar akan dijaga stabil dan berada dalam fundamental yang baik, sejalan dengan komitmen tinggi bank sentral Indonesia.
Hal ini diikuti dengan stabilitas eksternal yang terjaga, neraca pembayaran yang sehat, cadangan devisa yang cukup, serta pertumbuhan kredit yang meningkat. Di sisi lain, stabilitas sistem keuangan juga terjaga, dengan pesatnya ekonomi keuangan digital pesat.
“Ke depan, mari kita semakin perkuat sinergi, transformasi struktur ekonomi nasional untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi dan berdaya tahan, berbasis pada sumber daya alam dan ekonomi kerakyatan, bersatu kita tangguh dan mandiri,” kata Perry.
Ia menekankan stabilitas sangat penting bagi negara manapun untuk tumbuh tinggi dan berdaya tahan.
“Stabilitas yang dinamis, harga-harga terkendali, rupiah stabil, ekonomi bergerak cepat, dan rakyat mendapat manfaat. Itulah Sumitronomics,” kata Perry.
Sinergi fiskal dan moneter, imbuh Perry, semakin diperkuat dalam menjaga stabilitas. Hal ini dilakukan melalui stimulus untuk mendorong permintaan, penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) oleh pemerintah, pembelian SBN oleh BI di pasar sekunder, serta pengelolaan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!