Saat Napas Menjadi Anugerah: Kisah, Fakta, dan Harapan Pasien Hipertensi Paru
📅 Kamis, 27 Nov 2025, 20:35 WIB | Oleh: Haryo Brono“Kami berharap semua pihak, termasuk pemerintah, dapat membuka jalan bagi akses pengobatan yang lebih luas dan setara bagi seluruh pasien. Karena setiap napas yang diperjuangkan adalah hak untuk hidup, bukan sekadar bertahan,” tegas Arni.
Kisah perjuangan datang dari Yusnita Dewi, seorang pasien hipertensi paru yang membagikan pengalamannya. Sejak kecil ia sudah memiliki masalah pada paru-paru, kemudian sempat menjalani histerektomi, hingga akhirnya terkena COVID-19. Setelah itu, saya mulai merasa mudah lelah, mengalami pembengkakan, dan akhirnya didiagnosis gagal jantung dengan hipertensi paru primer.
“Saat dokter mengatakan saya harus menjalani terapi seumur hidup, rasanya dunia runtuh, seolah semua harapan saya hilang. Apalagi, tidak semua obat yang saya butuhkan tersedia di Indonesia. Sempat merasa putus asa, namun dukungan dari suami, keluarga, dan komunitas menjadi sumber energi utama yang membuat saya bertahan,” tuturnya.
Mimpi Yusnita sederhana, ia berharap para pasien hipertensi paru dapat memperoleh akses pengobatan yang lebih baik, serta mendapat dukungan moral dan sosial dari berbagai pihak agar tidak merasa berjuang sendiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Sehingga kami bisa memiliki satu napas lagi untuk melanjutkan hidup,” ucapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!