Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

California Pastikan Program Vaksin Aman

📅 Rabu, 26 Nov 2025, 23:35 WIB | Oleh:
California Pastikan Program Vaksin Aman Doc: AFP/Aubin Mukoni

SACRAMENTO - Gubernur California Gavin Newsom dan Aliansi Kesehatan Pesisir Barat (West Coast Health Alliance) pada Selasa (25/11) menyatakan bahwa vaksin tidak berkaitan dengan autisme, menegaskan kembali pedoman kesehatan berbasis ilmu pengetahuan setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Disease Control and Prevention/CDC) Amerika Serikat (AS) mengubah sikapnya terkait isu kontroversial tersebut.

West Coast Health Alliance, yang terdiri dari California, Oregon, Washington, dan Hawaii, menekankan bahwa "penelitian yang ketat terhadap jutaan orang di berbagai negara selama puluhan tahun memberikan bukti berkualitas tinggi bahwa vaksin tidak berkaitan dengan autisme," ungkap kantor Gubernur Newsom dalam sebuah pernyataan.

Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr. secara pribadi menginstruksikan CDC AS untuk merevisi situs webnya pada 19 November. Laman CDC yang diperbarui kemudian menegaskan bahwa klaim "vaksin tidak menyebabkan autisme" adalah hal yang "tidak berbasis bukti."

Kennedy telah menentang vaksin sejak setidaknya tahun 2005, ketika dia memublikasikan "artikel yang sarat kesalahan" di majalah Rolling Stone dan situs web Salon, mengeklaim bahwa thimerosal pengawet yang mengandung merkuri dalam vaksin menyebabkan autisme, kata Pusat Kebijakan Publik Annenberg (Annenberg Public Policy Center).

Salon menarik kembali artikel tersebut pada 16 Januari 2011, mengakui adanya sejumlah ketidakakuratan. Menurut STAT News, teori thimerosal Kennedy "bertentangan dengan logika karena vaksin MMR tidak pernah mengandung thimerosal."

"Warga Amerika berhak mendapatkan panduan kesehatan masyarakat yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, bukan opini," ujar Gubernur Newsom. Kennedy menyebut kesenjangan dalam penelitian keamanan vaksin sebagai pembenaran untuk perubahan tersebut, tetapi The New York Times melaporkan bahwa dia mengakui "penelitian epidemiologi yang ekstensif tidak menemukan kaitan dengan autisme."

Para pakar medis mengungkapkan kekhawatiran serius terkait instruksi baru CDC. Menurut KFF Health News, para dokter dan ilmuwan mengatakan perubahan terbaru itu "memicu gelombang kemarahan dan kecemasan" dan bahwa Kennedy "merusak kredibilitas sebuah lembaga yang selama ini mereka andalkan untuk bukti ilmiah yang tidak memihak."

Sejak 1998, peneliti independen di tujuh negara telah melakukan lebih dari 40 penelitian berkualitas tinggi yang melibatkan lebih dari 5,6 juta orang, seperti dilaporkan KFF Health News, yang semuanya menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin dan autisme.

Campak dinyatakan telah lenyap dari AS pada 2000 setelah keberhasilan upaya vaksinasi, papar data CDC. Namun, per 18 November 2025, total 1.753 kasus terkonfirmasi campak dilaporkan di seluruh negara itu, menandai jumlah kasus tertinggi sejak 1992. Dari seluruh kasus yang dilaporkan, 92 persen pasien tidak divaksinasi atau status vaksinasinya tidak diketahui. Ant/Xinhua

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Hendak Terbang, Warga AS Di...
Megapolitan
Seorang Tentara AS yang Ter...
Luar Negeri
Bantu Rumah Tangga, Jepang ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.