Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pakar Akui AL Korea Selatan Lebih Kuat dari Angkatan Laut Bela Diri Jepang

📅 Minggu, 25 Jan 2026, 00:08 WIB | Oleh:
Pakar Akui AL Korea Selatan Lebih Kuat dari Angkatan Laut Bela Diri Jepang Doc: Istimewa
Ket. Penilaian tersebut menyoroti strategi yang kontras, dengan Jepang berfokus pada kapal pertahanan rudal berukuran besar sementara Korea Selatan memprioritaskan kekuatan angkatan laut yang tersebar, diproduksi di dalam negeri, dan berkemampuan tanpa awak.

TOKYO - Para ahli pertahanan Jepang secara terbuka menilai bahwa angkatan laut Korea Selatan kini memiliki keunggulan kualitatif dibandingkan Angkatan Laut Bela Diri Jepang, yang menandakan pergeseran keseimbangan kekuatan angkatan laut di Asia Timur Laut, menurut analisis terbaru yang beredar di kalangan keamanan Jepang pada Januari 2026.

Dari Defence Blog, penilaian tersebut mencerminkan pandangan yang berkembang di Jepang bahwa ukuran kekuatan angkatan laut tradisional—jumlah kapal dan bobot—tidak lagi menentukan, dan bahwa Korea Selatan telah maju di bidang-bidang seperti integrasi sistem, peperangan tanpa awak, dan operasi berbasis jaringan. Beberapa analis Jepang mencatat bahwa asumsi lama tentang superioritas angkatan laut Jepang tidak lagi valid dalam kondisi operasional dan teknologi saat ini.

Menurut para komentator militer Jepang, konflik maritim di masa depan akan lebih ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan sensor, sistem serangan presisi, dan jaringan komando di seluruh platform berawak dan tanpa awak, daripada oleh ukuran armada. Dalam konteks ini, jalur modernisasi angkatan laut Korea Selatan semakin dipandang lebih selaras dengan karakter peperangan maritim yang terus berkembang.

Sebagian besar perdebatan di Jepang berfokus pada program Kapal Pengawal Aegis Canggih (ASEV) negara tersebut, sebuah kapal perusak pertahanan udara dan rudal generasi berikutnya yang dirancang berdasarkan radar SPY-7. ASEV direncanakan sebagai kapal perang kelas 14.000 ton, dengan dua kapal diperkirakan akan menelan biaya lebih dari 1,9 triliun yen (12 miliar dolar AS) secara gabungan.

Para ahli Jepang telah menyampaikan kekhawatiran bahwa pengintegrasian radar SPY-7—yang awalnya dirancang untuk pertahanan rudal berbasis darat—telah memaksa lambung kapal menjadi jauh lebih besar, sehingga meningkatkan biaya dan beban operasional. Konsumsi daya dan kebutuhan pendinginan radar tersebut disebut-sebut sebagai faktor utama yang mendorong peningkatan ukuran kapal, menciptakan apa yang oleh beberapa analis digambarkan sebagai platform yang terlalu besar dan mungkin lebih rentan dalam konflik intensitas tinggi.

Beberapa komentator di Jepang telah memperingatkan bahwa memusatkan sumber daya pada sejumlah kecil kapal yang sangat besar meningkatkan risiko, terutama di era senjata presisi jarak jauh, rudal hipersonik, dan sistem serangan tanpa awak. Sebuah penilaian ahli menggambarkan konsep ASEV sebagai "menciptakan target yang lebih besar daripada kekuatan yang lebih tangguh."

Sebaliknya, analis Jepang menunjuk pada strategi angkatan laut Korea Selatan yang lebih terdistribusi dan berfokus pada biaya. Seoul sengaja menghindari persaingan dalam ukuran kapal dan malah menekankan produksi dalam negeri, fleksibilitas sistem, dan otomatisasi.

Program kapal perusak generasi berikutnya Korea Selatan, yang dikenal sebagai KDDX, dirancang berdasarkan sistem manajemen tempur buatan dalam negeri dan radar AESA yang diproduksi di dalam negeri. Pendekatan ini mengurangi ketergantungan pada pemasok asing sekaligus memungkinkan adaptasi yang lebih cepat terhadap persyaratan operasional baru. Para ahli Jepang memandang ini sebagai respons praktis terhadap tekanan demografis, kendala anggaran, dan kebutuhan akan operasi berkelanjutan.

Salah satu elemen sentral dalam perencanaan angkatan laut Korea Selatan adalah integrasi sistem tanpa awak. Angkatan Laut Korea Selatan sedang mengembangkan konsep kapal komando tanpa awak yang mampu mengendalikan drone maritim, kapal permukaan tanpa awak, dan sistem pesawat tanpa awak. Para analis di Jepang telah menyoroti hal ini sebagai keunggulan struktural, yang memungkinkan Korea Selatan untuk mengurangi kebutuhan awak kapal sambil mempertahankan cakupan operasional dan kemampuan bertahan hidup.

Berdasarkan penilaian ini, platform tanpa awak memberikan fleksibilitas dalam misi pengintaian, koordinasi serangan, dan pengendalian laut, memungkinkan Korea Selatan untuk mendistribusikan kekuatan tempur daripada memusatkannya pada sejumlah kecil kapal bernilai tinggi.

Para ahli Jepang juga menunjuk pada semakin pentingnya operasi berbasis jaringan dalam peperangan laut modern. Dalam model ini, kekuatan tempur dihasilkan oleh integrasi sensor, penembak, dan simpul komando di berbagai platform, bukan oleh kapal-kapal individual yang bertindak sendiri.

Korea Selatan telah berinvestasi besar-besaran dalam mengintegrasikan kekuatan rudal jelajah dan balistik, sensor angkatan laut, dan sistem komando ke dalam arsitektur terpadu. Para analis mencatat bahwa keluarga rudal Hyunmoo memberi Korea Selatan kemampuan serangan presisi yang saat ini melampaui Jepang baik dalam hal variasi maupun kesiapan, khususnya dalam peran serangan maritim.

Peringkat militer global yang diterbitkan pada tahun 2025 menempatkan angkatan bersenjata Korea Selatan di posisi kelima di dunia, satu posisi di atas Jepang, yang mencerminkan tren yang lebih luas dalam modernisasi dan integrasi. Para ahli Jepang berpendapat bahwa kesenjangan ini paling terlihat di laut, di mana penekanan Korea Selatan pada serangan presisi, sistem tanpa awak, dan fusi informasi lebih selaras dengan realitas operasional yang muncul.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Liga Arab Kukuhkan Nabil Fahmy sebagai Sekjen

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Luar Negeri
Pemimpin Korut Bertekad Per...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.