Perkebunan Jadi Andalan Baru, Bantul Optimalkan 123 Hektare untuk Komoditi Unggulan
📅 Senin, 10 Nov 2025, 16:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Hery Sidik.
BANTUL – Pembukaan lahan untuk pengembangan komoditi perkebunan memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan ekspor, serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
Namun, langkah ini harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.
Dengan penerapan prinsip tata kelola lahan yang baik, penggunaan teknologi ramah lingkungan, dan diversifikasi komoditi unggulan, pembukaan lahan dapat menjadi motor penggerak ekonomi hijau yang menyeimbangkan aspek produktivitas, kelestarian, dan kesejahteraan petani.
Pemerintah Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan membuka lahan seluas 123 hektare untuk mengembangkan komoditi tanaman perkebunan di lima kapanewon atau kecamatan di daerah tersebut.
"Kita sudah punya 'deal' (sepakat) sama Kementan (Kementerian Pertanian) akan membuka lahan untuk komoditi perkebunan itu besar besaran," kata Bupati Bantul Abdul Halim Muslih usai menghadiri rapat Evaluasi Progres Pembangunan Pertanian di Bantul, Senin (10/11).
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, lahan seluas 123 hektare untuk pengembangan komoditi perkebunan tersebut akan dibuka di wilayah kapanewon Imogiri, Dlingo, Pleret, Piyungan dan Pundong.
"Itu untuk optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan. Jadi, jangan sampai ada yang menganggur, lahan Bantul ini kita manfaatkan seoptimal mungkin untuk menghasilkan pendapatan," katanya.
Dalam memilih lokasi lahan untuk perkebunan tersebut, kata dia, nantinya akan dilakukan langkah pengukuran pH atau tingkat keasaman tanah, untuk mengetahui komoditas perkebunan apa yang cocok pada lahan tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Maka ini kita hadirkan dari pakar UGM untuk memberikan saran berdasarkan riset yang dilakukan jadi kampus itu kita libatkan, untuk memastikan upaya yang kita lakukan itu efektif karena dilandasi oleh ilmu," katanya.
Menurut dia, pengembangan lahan perkebunan tersebut sejalan dengan program Presiden yang menginstruksikan kepada seluruh daerah yang potensial pertanian untuk mengembalikan pertanian sebagai soko guru ekonomi Indonesia.
"Karena Indonesia di zaman dulu adalah negara agraris, kita dikaruniai alam, tanah, cuaca iklim yang cocok dengan pertanian, maka itu jangan ditinggalkan, meninggalkan itu sama saja kita bunuh diri, karena Tuhan menciptakan Indonesia itu sejak zaman dulu itu memang sebagai negara agraris," katanya.
Dengan demikian, kata dia, berangkat dari kesadaran tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah ini memiliki target pertumbuhan sektor pertanian yang sangat besar.
"Sektor pertanian di Bantul ini coba kita kembangkan tidak bertumpu pada satu dua komoditi saja, sekarang kita merambah ke komoditi perkebunan, kakau, kelapa kopyor, kelapa genjah, mete, alpukat itu komoditi perkebunan yang coba kita kembangkan," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!