Wali Kota Bandung Dorong Program ‘Kang Pisman’, ‘Buruan Sae’ dan ‘Dapur Dahsat’ Diintegrasikan di Tiap RW
📅 Sabtu, 04 Okt 2025, 14:55 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Humas Kota Bandung
BANDUNG - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berupaya mengintegrasikan ketiga program unggulan yang telah bergulir, yakni Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Dahsat. Hal ini tercetus dalam beberapa edisi Siskamling Siaga Bencana yang bergulir di Kota Bandung.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mendorong ketiga program tersebut harus berjalan beriringan di setiap RW.
Menurut dia, tiga program ini menjadi program segitiga karena dapat menjawab berbagai persoalan Kota Bandung, mulai dari pengelolaan sampah, inflasi akibat komoditas pangan, hingga stunting.
"Kang Pisman mengolah sampah organik menjadi kompos, Buruan Sae memanfaatkan kompos itu untuk menanam sayuran dan pangan keluarga. Lalu, hasilnya dipakai di Dapur Dahsat untuk memberi makanan bergizi kepada anak-anak dan warga rentan. Jadi ini harus terintegrasi di tiap RW," ujar Wali Kota Farhan di Kantor Kelurahan Wates, Jumat (3/10).
Selain itu, Wali Kota Farhan juga meningatkan berbagai potensi dan tantangan di wilayah harus dihadapi dengan semangat kolaborasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mendorong gerakan warga jaga warga, warga jaga kota, terus digiatkan, terutama untuk melindungi kelompok rentan dan memastikan tidak ada warga yang terabaikan.
Selain program segitiga, pada Siskamling kali ini Wali Kota Farhan bersama jajaran OPD, kewilayahan, dan DPRD Kota Bandung juga membahas sejumlah potensi serta tantangan di Kelurahan Wates.
Sementara itu, Lurah Wates, Darmawansyah, menyoroti sejumlah isu mulai dari banjir di RW 3, 4, 5, 6, dan 7, kasus stunting yang tercatat sebanyak 38 anak, hingga angka pengangguran sekitar 391 orang atau sekitar 5 persen dari penduduk usia kerja.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Masalah banjir masih terjadi di RW 3 sampai RW 7, sementara data stunting ada 38 anak yang tersebar di beberapa RW. Kami juga mencatat sekitar 391 warga yang masih menganggur, dan itu jadi tantangan kesejahteraan di Wates," kata Darmawansyah.
Selain itu, terdapat pula data disabilitas dengan 69 warga penyandang disabilitas, serta kerawanan sosial seperti curanmor, kasus narkoba, hingga kejahatan seksual yang menimpa anak usia 16 tahun.
Di sisi lain, Darmansyah menjelaskan wilayah ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan, baik dalam aspek lingkungan, ekonomi, maupun sosial.
"Wates punya kekuatan gotong royong yang besar. Program-program pemberdayaan seperti posyandu, PKK, hingga karang taruna cukup aktif," kata dia.
Darmawansyah juga memperkenalkan dua program inovasi pelayanan publik di Kelurahan Wates yang sudah bergulir lebih dari dua tahun, yaitu Ngawargi (Ngalayanan Wargi) dan Sila Bewara (Silaturahmi Lurah Bersama Warga).
"Program ini sudah berjalan lebih dari dua tahun. Jadi, Lurah akan berkantor di tujuh RW yang ada di Wates, sehingga dapat menyerap informasi dan melihat secara real peristiwa di lapangan," tutur dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!