Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Etnis Mongolia Dalam Kemas Kerajinan Tradisional Lewat Sentuhan Modern

📅 Sabtu, 26 Jul 2025, 13:36 WIB | Oleh:
Etnis Mongolia Dalam Kemas Kerajinan Tradisional Lewat Sentuhan Modern Doc: ANTARA/Xinhua/Li Zhipeng
Ket. Seorang peserta pameran membuat produk budaya dan kreatif dengan pengunjung selama Pameran Industri Budaya Mongolia Dalam ke-9 di Hohhot, Wilayah Otonomi Mongolia Dalam, Tiongkok utara (17/7).

HOHHOT - Terletak di jalan utama di Enhe, satu-satunya kota kelompok etnis Rusia di Daerah Otonom Mongolia Dalam di Tiongkok, kafe milik Wang Xiufen menguarkan aroma hangat khas kayu. Wangi kopi yang baru diseduh bercampur dengan aroma alami kayu, menguar dari sebuah kabin tua yang merupakan rumah tradisional bergaya Rusia.

Begitu memasuki kafe tersebut, mata pengunjung akan langsung tertuju kepada kain-kain penuh warna, yaitu permadani buatan tangan, warna-warni hiasan dinding rajutan, dan ornamen wol rumit yang semuanya dibuat oleh Wang sendiri. Bagi Wang, pewaris kerajinan tekstil etnis Rusia, kafe ini lebih dari sekadar tempat usaha, melainkan jendela untuk memamerkan tradisi etnisnya.

"Dahulu, (keterampilan) menenun diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga saya, namun anak muda tidak begitu tertarik," ujar Wang.

"Kini, mereka datang untuk meminum kopi, memotret dekorasi tersebut, yang sempurna untuk dibagikan di media sosial, dan tiba-tiba, mereka ingin tahu lebih banyak dan bahkan mempelajarinya," katanya.

Di berbagai komunitas etnis di Mongolia Dalam, banyak pewaris kerajinan tradisional mengemas kebudayaan mereka yang berharga dalam konteks yang baru agar warisan tersebut tidak lagi terasa seperti peninggalan kuno, tetapi bagian yang hidup dan relevan dengan kehidupan masa kini.

Tak jauh dari Enhe, pewaris tradisi lainnya memberikan sentuhan baru pada keterampilan yang dia tekuni. Fu Yanmei telah menghabiskan lebih dari 20 tahun membuat lieba, transliterasi bahasa Mandarin dari kata "roti" dalam bahasa Rusia. Toko roti miliknya, yang dahulu hanya tempat perdagangan yang sepi, kini ramai dengan berbagai aktivitas. Beberapa tahun yang lalu, dia meluncurkan program membuat lieba, mengundang para pengunjung untuk membentuk sendiri adonan roti mereka.

Namun, Fu tidak hanya membiarkan para pengunjung memanggang roti. Dia juga menceritakan sejarah lieba dan bagaimana roti itu dibuat menggunakan ragi alami tanpa bahan tambahan. Menurut Fu, sebagian besar partisipan program itu adalah wisatawan muda. "Mencicipi lieba yang mereka buat sendiri merupakan kebahagiaan yang (akan) mereka ingat," tuturnya.

Jauh ke sebelah timur, di Wilayah Otonom Oroqen di dekat Pegunungan Khingan Raya, masyarakat Oroqen, salah satu kelompok etnis terkecil di Tiongkok, juga menghadirkan semangat baru dalam warisan budaya mereka.

Dahulu, mereka membuat kano, ayunan, keranjang, serta berbagai perkakas dan wadah lainnya dari kulit kayu birch, yang bernilai tinggi karena sifatnya yang tahan air dan tahan lama. Saat ini, di museum warisan budaya takbenda Oroqen, Meng Shuling, seorang ahli kerajinan kulit kayu birch, memamerkan berbagai benda tradisional beserta inovasi modern hasil kreasinya.

Bengkel kerja miliknya memajang anting dari kulit kayu birch yang elegan, magnet kulkas yang berkilau, dan liontin mungil berbentuk ayunan, yang seluruhnya merupakan kreasi yang memadukan tekstur alami bahan tersebut dengan selera kontemporer.

"Tradisi lama tidak boleh terus terkungkung di masa lalu," ujar Meng. Jemarinya mengusap sebuah kotak perhiasan dari kulit kayu birch.

Selain berbagai upaya akar rumput tersebut, dukungan kelembagaan juga mendorong kebangkitan kembali kerajinan tradisional. Sejak 2023, institut pengembangan kebudayaan dan pariwisata Mongolia Dalam, yang menjalin kolaborasi dengan beberapa universitas, telah meluncurkan program untuk menghidupkan kembali warisan budaya takbenda lewat pemanfaatan kreativitas generasi muda.

Inisiatif ini mendorong para mahasiswa untuk mengambil inspirasi dari elemen-elemen warisan budaya takbenda guna menciptakan ilustrasi digital, karakter kekayaan intelektual (intellectual property/IP), dan desain fesyen. Hingga saat ini, inisiatif itu telah menghasilkan lebih dari 300 karya bertema warisan budaya takbenda serta kerajinan tangan dan draf rancangan kreatif.

"Anak muda menginginkan sesuatu yang dapat mereka kenakan, pajang, dan apresiasi setiap hari. Itulah cara kami menjaga keterampilan tersebut tetap hidup," kata Meng. Ant/Xinhua

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Lebanon Babak Belur, 18 Per...
Kemenpar: Indonesia Raih Peringkat Kedua Destinasi Ramah Muslim Dunia

Kemenpar: Indonesia Raih Peringkat Kedua Destinasi Ramah Muslim Dunia

21 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.