Jangan Biarkan Aritmia Sebabkan Jantung Berhenti Mendadak! Kenali Prosedur Ablasi Jantung
📅 Minggu, 13 Jul 2025, 19:57 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: RS Pondok Indah - Pondak Indah
Aritmia adalah gangguan pada irama detak jantung, baik jantung berdetak terlalu cepat, lambat, atau tidak teratur. Kondisi ini menyebabkan gangguan pada pendistribusian darah yang mengandung oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh.
“Jadi, ketika aritmia tidak ditangani dengan tepat, bukan tidak mungkin bahwa kondisi ini bisa membahayakan nyawa penderitanya,” tulis dr. Dony Yugo Hermanto, Sp. J.P, Subsp. Ar (K), FIHA Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia RS Pondok Indah – Pondok Indah
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi aritmia dengan detak jantung yang terlalu cepat, salah satunya adalah dengan ablasi jantung atau cardiac ablation. Meski metode ini cukup efektif, tidak semua kasus aritmia merupakan kandidat yang sesuai untuk ditangani menggunakan metode ablasi.
Apa itu Ablasi Jantung?
Ablasi jantung adalah salah satu prosedur minimal invasif untuk menangani aritmia atau gangguan irama jantung tipe cepat. Irama yang terlalu cepat disebabkan oleh adanya jaringan sel otot jantung yang abnormal.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Metode ini bertujuan untuk menghilangkan jaringan jantung abnormal yang menyebabkan aritmia dengan energi panas (radiofrekuensi), dingin (cryo), dan gelombang listrik (pulsed wave). Hal ini akan membuat sinyal atau impuls listrik jantung yang abnormal menjadi normal dan memungkinkan detak jantung kembali normal,” terangnya.
Indikasi Ablasi Jantung
“Tidak semua kasus gangguan irama jantung harus ditangani dengan ablasi jantung. Namun, metode ini merupakan pilihan terapi lini pertama pada sebagian besar kasus aritmia tipe cepat,” papar dr. Dony.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ada beberapa indikasi ablasi jantung atau kondisi yang perlu ditangani dengan prosedur ablasi jantung. Penderita aritmia yang tidak berhasil ditangani dengan terapi obat-obatan, atau penderita aritmia mengalami efek samping yang berbahaya ketika mengonsumsi obat-obatan antiaritmia.
Selanjutnya pasien memiliki jenis aritmia tertentu, yang menunjukkan respons positif saat mendapatkan penanganan dengan ablasi jantung, seperti atrial fibrilasi, atrial flutter, supraventrikular takikardi, dan ventrikel takikardia. Lainnya penderita aritmia memiliki risiko komplikasi berbahaya akibat aritmia, seperti pingsan atau meninggal mendadak
Kontraindikasi Ablasi Jantung
Terdapat beberapa kondisi yang membuat ablasi jantung tidak dapat dilakukan ablasi jantung, karena efek samping atau risiko yang justru lebih besar dari manfaatnya. Kontraindikasi ablasi jantung yang dimaksud adalah kelainan perdarahan atau kelainan pembekuan darah, menderita kelainan pada pembuluh darah yang membuat akses atau proses memasukkan kateter tidak mungkin dilakukan, termasuk trombosis vena dalam, penyakit arteri perifer, bahkan diseksi aorta.
“Sedang mengalami infeksi, sensitif terhadap penggunaan obat pengencer darah, menggunakan katup jantung buatan atau sintetis, mengalami gumpalan darah dalam jantung, sedang hamil, maupun sedang dalam program hamil,” tuturnya.
Persiapan Sebelum Ablasi Jantung
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!