Bangun Ekonomi Perawatan untuk Hadapi Penuaan Penduduk
📅 Jumat, 11 Jul 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim PenulisAnda begitu perhatian pada perempuan yang merawat keluarga, apakah Anda menemui fakta memprihatinkan di lapangan?
Banyak perempuan di Indonesia melakukan kerja perawatan tanpa bayaran. Pekerjaan tersebut mencakup merawat anak, orang tua, hingga anggota keluarga yang sakit. Padahal, pekerjaan perawatan seharusnya diakui secara profesional.
Kita ingin perempuan memiliki kemandirian ekonomi. Kita ingin mereka diakui secara prosedural dan mendapat hak-haknya sebagai pekerja perawatan, termasuk saat bekerja di luar negeri. Isu ekonomi perawatan semakin mendapat perhatian global, terutama setelah pandemi. Karena itu, Indonesia tidak boleh tertinggal dalam membuka peluang ekonomi baru di sektor ini.
Saya pernah menghadiri forum tahunan ekonomi perawatan di Singapura. Dalam forum tersebut, kita melihat bagaimana ekonomi perawatan telah menjadi paradigma baru di level internasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah Singapura menjadikan isu penuaan populasi (aging population) sebagai prioritas. Hal itu mendorong tumbuhnya ekosistem kerja perawatan dan membuka peluang ekonomi di sana.
Anda melakukan perjalanan darat ke Flores, NTT beberapa waktu lalu sejauh ratusan kilo meter, naik gunung, turun gunung. Apa kepentingannya?
KemenPPPA membuka ruang kolaborasi dengan daerah untuk memastikan perempuan dan anak-anak di daerah bisa hidup aman, sehat, dan berdaya. Kunjungan ini diharapkan menjadi titik awal penguatan program-program perlindungan dan pemberdayaan perempuan berbasis komunitas di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagaimana Kemen PPPA memberi perhatian terhadap anak berkebutuhan khusus?
Pentingnya pemberdayaan yang spesifik dalam menciptakan masa depan inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya dengan spektrum autisme. Pemerintah telah banyak menyediakan dan memberikan pelatihan untuk peningkatan keterampilan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) kepada para penyandang disabilitas. Namun fakta di lapangan, tingkat penyerapan di dunia kerja masih belum maksimal.
Selama ini serapan pekerja dari kelompok berkebutuhan khusus atau disabilitas masih belum maksimal. Pemerintah telah memberikan pelatihan, tetapi apakah ketika pemerintah memberikan pelatihan itu sesuai dengan job description atau kebutuhan di lapangan? Berati kita juga harus melihat dari ujungnya. Lapangan pekerjaan atau pemberi kerja butuh kualifikasi seperti apa? Dasar inilah bisa kita gunakan untuk membuat modul dalam melatih anak-anak disabilitas atau penyandang autisme.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!