Upaya Pulihkan Trauma Para guru di Papua Melalui 'Training as Healing'
📅 Minggu, 29 Jun 2025, 18:51 WIB | Oleh: OpikSelain Vantiana ada juga Efodius Nule seorang tenaga pendidik asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang mengajar di Distrik Bomela, Kabupaten Yahukimo, Dia juga mengikuti pelatihan tersebut. Meskipun tidak menjadi korban langsung dalam kejadian kekerasan tersebut, namun Efodius mengaku turut merasakan dampaknya.
“Semangat kami sempat runtuh. Karena kami datang untuk mengajar dengan ikhlas,” ujar guru mata pelajaran PPKn ini.
Setelah mengikuti pelatihan Traning as Healing ia bersama 80 tenaga pendidik lainnya mulai merasakan keinginan untuk kembali mengajar meski tidak di tempat yang sama.
“Mau mengajar di Tanah Papua lagi, tapi tidak di tempat yang sama, karena kami melihat disini ilmu yang didapat selama berkuliah bisa sangat bermanfaat,” kata Efodius Nule yang juga guru IPS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski tidak kembali mengajar di tempat yang sama namun Vantiana Kambuh, Efodius Nule serta rekan-rekan guru penyintas lainnya berharap anak-anak didik mereka tetap bisa terus semangat belajar, kendati dengan bahan ajar seadanya.
Para guru tersebut juga menyadari bahwa para siswa di pedalaman Papua sangat bergantung pada keberadaan guru. Namun pendidikan harus tetap berjalan.
Pemerintah dan psikolog
Sebaiknya Anda baca juga:
Pelatihan “Training as Healing” ini merupakan hasil kerja sama antara Kemenko PMK dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Kegiatan ini merupakan kerja sama yang baik untuk membantu memulihkan semangat dan kesehatan mental para guru eks Yahukimo, khususnya tenaga pendidik dari Distrik Anggruk dan Bomela.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK, Ojat Darojat, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang secara komprehensif untuk memulihkan semangat dan kesehatan mental para guru.
Dengan hadirnya program tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi pemerintah daerah agar memberikan penguatan lagi lebih mendalam.
“Kami ingin para guru tetap punya integritas dan semangat untuk mengabdi. Peristiwa seperti ini tidak boleh membuat mereka mundur, tetapi justru jadi alasan untuk bangkit. Kami menyesalkan dunia pendidikan menjadi sasaran kekerasan,” katanya.
Selain fokus pada pemulihan individu, pelatihan ini juga bertujuan agar guru-guru bisa menjadi agen penyembuh bagi rekan kerja dan peserta didik.
Program-program seperti ini harus mendapat perhatian serius bagi pemerintah khususnya daerah konflik yang ada di Papua.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!