Upaya Pulihkan Trauma Para guru di Papua Melalui 'Training as Healing'
📅 Minggu, 29 Jun 2025, 18:51 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/HO- Himpsi Papua
JAYAPURA - Peristiwa pada Jumat (21/6), sekitar pukul 16.00 WIT di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, menjadi kenangan pahit bagi para guru yang ada di kawasan tersebut. Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) secara membabi buta melakukan aksi kekerasan sehingga meninggalkan luka psikologis bagi para guru yang mengabdi dengan sepenuh hati di wilayah tersebut.
Para pendidik yang hadir sebagai garda terdepan untuk mencerdaskan generasi muda Papua kini harus bergelut dengan trauma yang dalam. Ketakutan membayangi aktivitas mereka sehari-hari.
Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) berupaya secara sungguh-sungguh untuk membantu para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut keluar dari trauma yang berkepanjangan.
Pemerintah menyelenggarakan program strategis bertajuk “Training as Healing”, sebuah pelatihan pemulihan trauma bagi guru-guru terdampak. Pelatihan sebagai sarana untuk meningkatkan kesehatan mental dan fisik, serta sebagai alat untuk penyembuhan.
Traning as Healing dilakukan selama empat hari di Kota Jayapura, Papua. Kegiatan ini telah memberikan dampak positif bagi pemulihan psikologis para guru meskipun meski belum 100 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Vantiana Kambuh, guru Bahasa Indonesia di YPPK Distrik Anggruk, adalah salah satu peserta dalam program ini. Dia telah mengabdi di wilayah yang aksesnya sulit dan penuh tantangan itu sejak 2021. Bukan karena penugasan formal, melainkan panggilan hati yang membawanya ke sana.
“Saya kuliah di Uncen (Universitas Cendrawasih). Setelah lulus orang tua meminta pulang ke Sorong. Tapi hati saya terpanggil untuk mengajar di Distrik Anggruk,” katanya, berkisah.
Sekolah di Kabupaten Yahukimo, tepatnya di Distrik Anggruk, memiliki murid sekitar 100 orang yang tersebar di kelas 1 hingga kelas 6 Sekolah Dasar (SD). Meskipun ada fasilitas sekolah, namun sangat kekurangan tenaga pengajar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mendengar informasi tersebut Vantiana Kambuh tergerak untuk mengabdikan diri ke sana. Adik-adiknya membutuhkan kehadiran tenaga pendidik.
Mengajar bagi dirinya bukan sekadar tugas, tetapi bentuk kasih sayang. Rasa bahagia terpancar dari interaksi harian dengan lebih dari 100 siswa yang sangat antusias belajar meski dengan fasilitas yang minim.
Namun, suasana penuh kehangatan itu sirna seketika saat kekerasan terjadi. Vantiana mengaku masih sulit mempercayai bahwa ia dan rekan-rekannya menjadi korban dari tindakan brutal yang merenggut rasa aman.
“Kami datang untuk mengajar, bukan untuk menyakiti siapa pun. Tapi kami justru menjadi sasaran. Rasa takut dan trauma begitu mendalam. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, apa salah kami,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Melalui “Training as Healing”, Vantiana perlahan mulai menemukan kembali kekuatannya. Pelatihan yang diberikan membantunya mengelola emosi, menurunkan rasa trauma, dan menghidupkan semangat untuk terus mengabdi.
Memang rasa trauma yang dirasakan tidak hilang begitu saja, apalagi tempatnya mengajar merupakan lokasi kejadian langsung sehingga untuk hilang 100 persen rasa itu masih membutuhkan waktu. Dia bersama 80 guru penyintas, belajar untuk bagaimana mengatasi rasa takut dan mengendalikan emosi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!