Wow! Sang Jenius Eksentrik Elon Musk Ternyata Tidak Puas dengan Status Orang Terkaya di Dunia
📅 Rabu, 25 Jun 2025, 03:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: X
LONDON - "Tiga tahun lalu, saya mencuci pakaian di WC umum. Sekarang saya punya mobil pertama seharga US$3 juta."
Pada 1999, Elon Musk melontarkan pernyataan itu dalam sebuah acara televisi. Momen tersebut merupakan perkenalan terhadap sosoknya, yang kini terkenal, kontroversial, diselimuti mitos, politik, dan begitu banyak uang.
Kini, Musk adalah miliarder terkaya di dunia, menurut Bloomberg Billionaires Index. Kekayaan bersihnya saat ini diperkirakan sekitar US$386 miliar.
Melalui kekuatan ekonominya, Musk secara aktif menyokong kampanye Donald Trump sejak 2024.
Langkah tersebut membuatnya memperoleh kursi di pemerintahan Trump sebagai kepala Departemen Efisiensi Pemerintah, yang dikenal sebagai DOGE. Departemen itu baru dibentuk tahun ini dengan tujuan mengurangi pengeluaran publik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, beberapa hari lalu, Musk mengundurkan diri dan memutuskan untuk mengkritik Trump di depan umum.
Trump pun membalas dan memicu saling tuding yang menurut koresponden BBC, Anthony Zurcher, menempatkan orang terkaya di dunia dan politisi paling berkuasa di planet ini dalam pertarungan sampai mati.
Ini adalah bab terakhir dalam biografi Elon Musk yang rumit.
Sebaiknya Anda baca juga:
Musk lahir pada 1971 dari keluarga kaya di Pretoria, Afrika Selatan. Ayahnya, Errol Musk, bekerja sebagai insinyur elektromekanik. Adapun ibunya, Maye Musk, adalah seorang model dan ahli gizi.
Ayah Musk telah berulang kali mengklaim bahwa kekayaan keluarganya berasal dari pertambangan zamrud di Zambia, tetapi Elon membantahnya.
Biografi yang ditulis oleh Walter Isaacson, menyebutkan masa kecil Musk yang kompleks. Musk kesulitan memahami pergaulan sosial karena sindrom Asperger yang diidapnya, perundungan di sekolah, dan perceraian orang tuanya.
Namun, meskipun kurang dalam pergaulan sosial, seperti yang dikatakannya sendiri, kemampuan berwirausaha adalah keahliannya. Bersama saudaranya, ia menjual telur Paskah buatan sendiri dari pintu ke pintu dan mengembangkan permainan komputer pertamanya pada usia 12 tahun.
Pada usia 17 tahun, ia bermigrasi ke Kanada, tempat asal ibunya. Dari sana, ia bertolak ke Amerika Serikat, tempat ia belajar ekonomi dan fisika di University of Pennsylvania, sebuah universitas Ivy League.
Saat kuliah, ia bertemu dengan istri pertamanya, penulis Justine Musk, yang menulis dalam esai tahun 2010 untuk majalah Marie Claire bahwa bahkan sebelum ia mulai mengumpulkan kekayaan, Musk bukanlah orang yang bisa menerima penolakan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!