AS Sita Kapal Tanker Berbendera Russia, Menyebutnya 'Armada Bayangan' terkait Minyak Venezuela
📅 Kamis, 08 Jan 2026, 11:35 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: BBC/X @Southcom
WASHINGTON - Amerika Serikat mengatakan telah menyita dua kapal tanker yang terkait dengan ekspor minyak Venezuela dalam operasi "berturut-turut" di Atlantik Utara dan Karibia.
Menurut laporan BBC, Pasukan AS menaiki kapal Marinera berbendera Russia setelah pengejaran yang berlangsung hampir dua minggu saat kapal tersebut melintasi perairan antara Islandia dan Skotlandia. Angkatan Laut Kerajaan Inggris memberikan dukungan logistik melalui udara dan laut.
Pasukan AS juga menaiki kapal tanker kedua, M/T Sophia di Karibia, yang dituduh "melakukan aktivitas ilegal".
Langkah-langkah ini dilakukan saat AS berupaya memutus sebagian besar ekspor minyak mentah Venezuela, hanya beberapa hari setelah pasukan khusus AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam serangan kilat di kediamannya di Caracas.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menulis di X: "Blokade minyak Venezuela yang dikenai sanksi dan ilegal tetap BERLAKU PENUH - di mana pun di dunia."
Sebaiknya Anda baca juga:
Moskow mengecam penyitaan kapal tanker yang berlayar di bawah benderanya, dan menuntut agar AS memperlakukan warga Russia di kapal tersebut dengan layak dan mengizinkan mereka untuk segera kembali ke Russia.
Kementerian Perhubungan Russia mengatakan telah memberikan "izin sementara" kepada kapal tersebut untuk menggunakan bendera Russia. Kemenhub juga mengatakan, tidak ada negara yang berhak menggunakan kekerasan terhadap kapal yang terdaftar dengan benar di yurisdiksi negara lain.
Laporan menyebutkan, Russia mengirimkan kapal selam untuk mengamankan kapal tersebut, tetapi tampaknya pasukan AS mampu menaiki kapal tanker tanpa menghadapi perlawanan apa pun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gedung Putih menggambarkan kapal tersebut sebagai "kapal armada bayangan Venezuela yang dianggap tanpa kewarganegaraan setelah mengibarkan bendera palsu dan memiliki perintah pengadilan" terhadapnya.
Kepemimpinan Venezuela bekerja sama dengan AS dalam penyitaan kapal tanker kedua di Karibia, kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
"Mereka memahami bahwa satu-satunya cara mereka dapat memindahkan minyak dan menghasilkan pendapatan serta tidak mengalami keruntuhan ekonomi adalah jika mereka bekerja sama dan berkolaborasi dengan Amerika Serikat," katanya kepada wartawan.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Venezuela - yang memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia - "akan menyerahkan" hingga 50 juta barel minyak senilai sekitar $2,8 miliar kepada AS.
Rubio, yang memberi pengarahan kepada anggota parlemen AS tentang operasi yang sedang berlangsung di Venezuela pada hari Rabu, mengatakan AS akan menjual minyak yang ada di Venezuela "di pasar dengan harga pasar" dan AS akan mengontrol bagaimana hasil penjualan tersebut didistribusikan "dengan cara yang menguntungkan rakyat Venezuela".
Ia mengatakan AS memiliki rencana yang matang untuk masa depan Venezuela, dan bahwa pemerintahan "tidak hanya bertindak asal-asalan".
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!