Wisata Hiu Paus Botubarani Buktikan Konservasi Bisa Hasilkan Cuan
📅 Kamis, 30 Jul 2026, 20:50 WIB | Oleh: Tim PenulisGORONTALO – Keterlibatan warga dalam pengelolaan jasa wisata berbasis komunitas menjadi kunci terciptanya pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.
Partisipasi masyarakat tidak hanya memastikan manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh warga lokal melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan UMKM, tetapi juga mendorong pelestarian budaya serta lingkungan sebagai daya tarik utama destinasi.
Dengan penguatan kapasitas, tata kelola yang baik, dan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas, wisata berbasis masyarakat dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih merata dan berkelanjutan.
Wisata hiu paus di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat pesisir sekitar melalui keterlibatan warga dalam pengelolaan jasa wisata berbasis komunitas.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Hiu Paus Botubarani Wahab Matoka di Gorontalo, Kamis (30/7), mengatakan keberadaan wisata hiu paus sejak 2016 telah membuka peluang pendapatan bagi masyarakat, terutama pemilik perahu yang melayani kebutuhan wisatawan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kalau berbicara masalah peningkatan pendapatan masyarakat di sini, itu sudah terpenuhi. Perahu-perahu yang ada di sini adalah milik pribadi masyarakat," ujar Wahab.
Ia menjelaskan masyarakat tidak hanya bergantung pada aktivitas wisata hiu paus, tetapi menjadikan usaha tersebut sebagai sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Menurut dia, pengelolaan wisata dilakukan dengan melibatkan masyarakat lokal, mulai dari pengelola pangkalan, pemilik perahu, hingga penyedia jasa pendukung wisata.
Sebaiknya Anda baca juga:
Wisatawan yang berkunjung dapat memilih sejumlah layanan, seperti paket perahu kaca, paddle boat, snorkeling, hingga diving dengan tarif yang telah ditetapkan melalui peraturan desa.
Untuk paket perahu kaca misalnya, pengunjung dikenakan tarif Rp450 ribu per orang, sedangkan layanan perahu dikenakan Rp100 ribu untuk tiga orang. Sementara snorkeling dikenakan biaya lokasi Rp35 ribu per orang dan diving Rp60 ribu per orang, belum termasuk perlengkapan.
Wahab menegaskan tarif tersebut tidak dapat diubah secara sepihak karena telah mengacu pada peraturan desa untuk menjaga kepastian bagi pengunjung dan masyarakat.
"Kalau masalah tarif tidak ada yang dilebihkan, tidak ada yang dikurangi, karena kami juga takut kalau terjadi persoalan antara pengunjung dan masyarakat," katanya.
Selain menggerakkan ekonomi warga, pengelolaan wisata hiu paus juga memberikan kontribusi kepada desa melalui pembagian pendapatan jasa wisata.
"Sepuluh persen itu ke desa, karena di sini pangkalan hanya menarik jasa. Semua kegiatan di sini hanya menarik jasa," ujar Wahab.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!