Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Konflik Iran-Israel Memanas, Indonesia Perlu Waspadai Ancaman Energi!

📅 Senin, 23 Jun 2025, 22:38 WIB | Oleh: Tim Penulis
Konflik Iran-Israel Memanas, Indonesia Perlu Waspadai Ancaman Energi! Doc: ANTARA/HO-Dokumentasi pribadi
Ket. Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi Satya Hangga Yudha Widya Putra (dua dari kanan).

JAKARTA - Indonesia harus siaga terhadap dampak ketahanan energi nasional menyikapi konflik Iran-Israel, yang makin memanas.

Karenanya, strategi mitigasi risiko sangat oenting di tengah ketidakpastian geopolitik guna menjaga ketahanan energi nasional.

"Konflik Iran-Israel semakin memanas dan harga crude (harian) bisa terus meningkat yang tentunya berpengaruh terhadap Indonesia crude price. Dikarenakan Indonesia adalah negara importir minyak, menyubsidi beberapa jenis BBM dan pembangkit listrik kita masih banyak yang menggunakan diesel, kondisi ini akan menggerus APBN kita," ujar Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi Satya Hangga Yudha Widya Putra dalam keterangannya di Jakarta, Senin (23/6).

Oleh karena itu, lanjutnya, perusahaan seperti PT Pertamina (Persero) harus menyiapkan sejumlah rute alternatif untuk menjamin kelangsungan rantai pasok.

Hangga mengatakan, sejumlah lembaga dunia memproyeksikan terjadinya kenaikan harga minyak, bahkan hingga 130 dolar AS per dolar yang tentunya berdampak ke Indonesia.

"Proyeksi ini bukan sekadar angka, melainkan indikator bahwa Indonesia harus sangat berhati-hati. Sebagai negara pengimpor bersih minyak dengan produksi domestik di bawah 600.000 barel/hari sementara konsumsi mencapai 1,6 juta barel/hari, kita sangat rentan terhadap gejolak harga global," kata Hangga.

Impor minyak, berupa mentah dan olahan Indonesia, tercatat melonjak 19 persen pada 2024.

"Kesenjangan ini membuat setiap kenaikan harga atau gangguan pasokan global akan langsung membebani anggaran negara dan memicu inflasi domestik," tambahnya.

Eskalasi konflik tersebut juga menempatkan Pemerintah Indonesia pada dilema terkait harga bahan bakar bersubsidi, khususnya Pertalite.

"Para ahli berpendapat bahwa selama harga minyak global tetap di bawah 100 dolar AS per barel, pemerintah mungkin dapat menghindari kenaikan harga signifikan terhadap bahan bakar bersubsidi," jelas Hangga.

Namun, jika harga melampaui ambang batas itu, pemerintah akan menghadapi tekanan besar untuk menaikkan harga BBM domestik demi mencegah beban APBN yang tidak berkelanjutan.

Di sisi lain, Hangga mengapresiasi langkah mitigasi risiko, yang dijalankan PT Pertamina dan PT PLN, menyikapi potensi krisis Iran-Israel tersebut.

"Pertamina, melalui PT Pertamina Internasional Shipping (PIS), melakukan pemantauan ketat terhadap kapal tanker mereka di rute internasional untuk memastikan kondisi aman. Ini adalah langkah fundamental," ujar Hangga.

Selain itu, mitigasi Pertamina lainnya adalah diversifikasi sumber minyak mentah dan penyiapan rute pelayaran alternatif.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

ITS Kembangkan Bakteri untuk Pulihkan Lingkungan Tercemar

14 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
ITS Kembangkan Bakteri untu...
Daerah
Penutupan Perlintasan Liar ...
Awas! Ini Bahaya Tersembunyi Campur Pertamax dan Pertalite untuk Kendaraan Anda

Awas! Ini Bahaya Tersembunyi Campur Pertamax dan Pertalite untuk Kendaraan Anda

22 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.