Hitung Cepat Ungkap Lee Jae-myung Menang Secara Telak
📅 Rabu, 04 Jun 2025, 02:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/ANTHONY WALLACE
SEOUL - Lee Jae-myung dari Partai Demokrat yang condong ke kiri, berada di jalur yang tepat untuk memenangkan pemilihan presiden Korea Selatan (Korsel) dengan telak menurut hitung cepat pemilu yang keluar pada Selasa (3/6), dengan tingkat partisipasi pemilih yang tinggi setelah berbulan-bulan terjadi kekacauan politik.
Enam bulan setelah mantan Presiden Yoon Suk-yeol menjerumuskan negara ke dalam krisis dengan deklarasi darurat militer yang membawa bencana, hitung cepat yang dirilis oleh tiga lembaga penyiar utama Korsel menunjukkan Lee berhasil mengantongi 51,7 persen suara.
Sementara penantangnya dari kubu Konservatif, Kim Moon-soo, hanya berhasil meraih dukungan sebanyak 39,3 persen suara, menurut hitung cepat tersebut.
Setelah berbulan-bulan terjadi kekacauan dan pergantian pemimpin sementara yang tidak dapat dielakkan, banyak warga Korsel yang ingin negaranya maju, hingga jajak pendapat selama beberapa pekan sebagian besar menempatkan keunggulan Lee jauh di depan Kim.
"Saya berharap presiden berikutnya akan menciptakan suasana damai dan persatuan, bukan perang ideologis," kata seorang sopir taksi bernama Choi Sung-wook, 68 tahun, kepada AFP usai ia memberikan hak suaranya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemimpin Korsel berikutnya akan segera menjabat tak lama setelah Komisi Pemilihan Umum Nasional selesai menghitung suara dan mengesahkan hasilnya, kemungkinan pada Rabu (4/6) pagi.
Siapapun yang terpilih akan menghadapi beberapa tantangan besar seperti perubahan perdagangan global yang mengganggu perekonomian, tingkat kelahiran terendah di dunia, dan Korea Utara (Korut) yang semakin berani karena dengan cepat memperkuat persenjataan militernya.
Namun, dampak dari deklarasi darurat militer Yoon, yang telah membuat Korsel secara efektif tidak memiliki pemimpin selama bulan-bulan pertama masa jabatan kedua Presiden AS, Donald Trump ,yang penuh gejolak, merupakan faktor penentu dalam pemilu, kata para ahli.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pemungutan suara tersebut sebagian besar dipandang sebagai referendum terhadap pemerintahan sebelumnya," kata Kang Joo-hyun, seorang profesor ilmu politik di Universitas Perempuan Sookmyung, kepada AFP. "Krisis darurat militer dan pemakzulan tidak hanya mempengaruhi kaum moderat tetapi juga memecah basis konservatif," ungkap dia.
Pemakzulan Yoon atas penerapan darurat militernya, menjadikannya presiden konservatif kedua secara berturut-turut yang dicopot dari jabatannya setelah Park Geun-hye pada tahun 2017. Banyak pemilih mengatakan bahwa mereka terkejut dengan upaya Yoon untuk menangguhkan pemerintahan sipil.
"Itu adalah hal yang pernah dilakukan pada masa kediktatoran lama di negara kita," ucap salah satu pemilih bernama Park Dong-shin, 79 tahun.
Partisipasi Tinggi
Sementara itu di Majelis Nasional, pejabat Partai Demokrat berkumpul di ruang pemantauan pemilu, dengan sederet televisi disiapkan untuk menonton jajak pendapat dan penghitungan suara. Tepuk tangan dan sorak sorai memenuhi ruangan saat hasil jajak pendapat diumumkan, menempatkan Lee jauh di depan saingannya Kim, dengan teriakan "Lee Jae-myung" langsung terdengar dan bergema di seluruh ruangan.
Angka partisipasi pemilih dalam pilpres ini pun dilaporkan cukup tinggi, yakni sekitar 77,8 persen hingga pelaksanaan pesta demokrasi menjelang sore hari, yang tertinggi dalam hampir dua dekade kata sejumlah pejabat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!