Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Keren, Balai Kemenperin Olah Limbah Daun Nanas Jadi Bahan Baku Industri

📅 Minggu, 25 Mei 2025, 22:27 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Keren, Balai Kemenperin Olah Limbah Daun Nanas Jadi Bahan Baku Industri Doc: istimewa
Ket. Indonesia adalah salah satu negara produsen buah nanas terbesar di dunia, bahkan menduduki peringkat pertama pada tahun 2024 dengan total produksi sebesar 3,15 juta ton

JAKARTA-Indonesia adalah salah satu negara produsen buah nanas terbesar di dunia, bahkan menduduki peringkat pertama pada tahun 2024 dengan total produksi sebesar 3,15 juta ton. Di balik melimpahnya ketersediaan buah tropis tersebut, ada peluang besar dari hasil pengolahan limbah daun nanas menjadi serat daun yang umum dikenal dengan sebutan leaf fiber. 

“Leaf fiber ini adalah serat yang diambil dari bagian daun tumbuhan dan memiliki keunggulan karakteristik yang beragam. Serat daun ini semakin banyak diminati, baik untuk memenuhi kebutuhan sektor industri fesyen maupun industri non-tekstil, kata Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Andi Rizaldi di Jakarta, Minggu (25/5).

Menurut Kepala BSKJI, pertumbuhan pasar terhadap serat daun terutama didorong oleh meningkatnya preferensi konsumen terhadap produk yang ramah lingkungan. Merujuk pada laporan Dataintelo, pasar global kain serat daun untuk pakaian bernilai sekitar 1,2 miliar dollar AS pada 2023, dan diproyeksi akan naik mencapai 2,8 miliar dollar AS pada tahun 2032.

Salah satu strategi peningkatan daya saing industri, yakni dengan menciptakan value chain, di mana keunggulan produk dibuat berdasarkan permintaan konsumen," ujarnya.

Dengan meningkatnya kesadaran tentang isu industri berkelanjutan, lanjut Andi, serat daun ini menawarkan solusi yang menjanjikan baik dari segi bahan baku yang mudah terurai serta pemanfaatan limbah yang berlimpah dari aktivitas industri perkebunan. 

Solusinya menyentuh beberapa aspek. Pertama, menjadi komoditas serat alam alternatif yang bisa digunakan sebagai bahan baku yang ramah lingkungan dan mudah terurai. Kedua, mengurangi polusi udara,"imbuhnya. 

Alih-alih membakar sisa daun setelah panen nanas, para petani kini dapat mengolahnya menjadi produk turunan dengan nilai harga yang jual cukup tinggi. “Ini akan menjadi aspek yang ketiga, yakni penciptaan green jobs di area-area lumbung serat Indonesia," ungkap Andi.

Adapun keunggulan serat daun nanas, antara lain material dengan tekstur lembut, ringan, dan memiliki tampilan mengkilap seperti sutera, sehingga cocok untuk digunakan sebagai bahan dasar pakaian, aksesoris. Selain itu, kekuatan dan durabilitasnya yang tinggi membuat serat ini banyak digunakan untuk bahan tekstil interior, otomotif, maupun bahan baku industri lainnya.

“Tantangan untuk memenuhi permintaan pasar yang beragam ini, adalah dengan terus mengembangkan teknologi pengolahan serat alam dan memperkenalkan proses pengolahan ini pada stakeholder industri, termasuk di lingkungan pemerintah daerah," tutur Andi.

Program pembinaan industri ini dilakukan oleh salah satu UPT di lingkungan Kemenperin, yakni Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BBSPJI) Tekstil Bandung, yang menjalin kerja sama dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. 

Nilai Tambah

Kepala BBSPJI Tekstil, Cahyadi menerangkan, kerja sama ini dilaksanakan untuk mendukung Pemerintah Kaltim dalam meningkatkan nilai tambah dan hilirisasi industri berbasis sumber daya alam serat nanas sebagai bahan baku industri, khususnya untuk produk tekstil.

Sebagai kegiatan awal, sebanyak 14 orang petani nanas dari Kalimantan Timur hadir mengikuti bimbingan teknis pengolahan serat nanas di fasilitas Testbed Pengolahan Serat Alam BBSPJI Tekstil Bandung, jelasnya. 

Pembinaan industri ini tidak boleh berhenti pada pengenalan teknologi proses serta penyediaan mesin pengolahan serat alam, namun perlu dilanjutkan dengan peningkatan kemampuan untuk menciptakan value chain serat nanas. Selain itu, perlu membaca prediksi permintaan pasar, memahami standar mutu komoditi serat alam, serta memiliki semangat untuk terus mengembangkan produk yang memiliki keunggulan kompetitif, pungkas Cahyadi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Daftar Event Akhir Pekan di Jakarta 6–7 Juni 2026: Ada Konser EXO dan Reality Club

Daftar Event Akhir Pekan di Jakarta 6–7 Juni 2026: Ada Konser EXO dan Reality Club

05 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.