Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Membaca 'Nenengisme' dan Kegagalan Komunikasi Iklim Menjangkau Akar Rumput

📅 Senin, 19 Mei 2025, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Membaca 'Nenengisme' dan Kegagalan Komunikasi Iklim Menjangkau Akar Rumput Doc: The Conversation
Ket. Screenshot Akun Facebook Neneng Rosdiyana.

Snezana Swasti Brodjonegoro, The University of Queensland dan Ardhana Riswarie, Australian National University

“Ilmu bukan hanya milik akademisi saja, petani memahami tanah, nelayan membaca bintang dan pelaut menafsir angin, jauh sebelum buku sains tebal ditulis. Jika sains adalah ilmu tentang alam, maka yang hidup paling dekat dengan alam adalah murid terbaiknya.”

Kalimat menohok di atas adalah salah satu unggahan Neneng Rosdiyana di akun Facebook-nya beberapa waktu lalu. Tulisan itu disukai 3.700 akun, dibagikan lebih dari 400 kali dan mendapat ratusan komentar. Warganet menganggap pesan-pesan lingkungan yang disampaikan Neneng begitu ‘kena di hati’ dan dekat dengan kehidupan mereka, sehingga banyak yang ikut menyebarkannya.

Neneng bukan ilmuwan, akademisi, ahli lingkungan, atau konsultan komunikasi. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang juga aktif sebagai anggota Komunitas Wanita Tani (KWT) Mentari di Pesawaran, Lampung. Ia sering membagikan kegiatan bercocok tanam, panen, hingga pemberdayaan ekonomi ibu-ibu di daerahnya via Facebook.

Setelah viral, “Neneng” lantas menjelma menjadi simbol perempuan desa dan petani berdaya yang berjuang untuk keadilan sosial dan lingkungan. Warganet menyebut gerakannya sebagai bentuk revolusi ala ibu-ibu petani, sampai-sampai muncul istilah “Nenengisme”. Kehadiran Neneng sekaligus menjadi kritik bagi para intelek yang sering kali terjebak dalam jargon dan retorika. Ia mengingatkan kembali pertanyaan mendasar: siapa yang sebenarnya kita ajak bicara?

Dari mana Neneng muncul?

Neneng mulai dikenal di media sosial sejak akhir 2023 lalu. Tepatnya pada 23 Desember 2023, ketika fanpage “Marxisme Indonesia” tiba-tiba berubah nama menjadi “Neneng Rosdiyana”. Neneng mengaku iseng saja membeli akun Facebook itu dan menggantinya menjadi namanya sendiri. Tapi ia mengaku tidak tahu banyak tentang Marxisme dan awalnya mengira “Marxis” cocok untuk menjadi nama band.  

Fenomena ini menarik perhatian publik karena muncul di tengah ramainya pembahasan soal isu sensitif paham Marxis menjelang Pemilihan Presiden 2024 lalu. Banyak yang kemudian mengait-ngaitkan Neneng dengan ide-ide perjuangan kelas melawan kapitalisme yang dibawa Marxisme. Tapi, Neneng tak pusing dengan berbagai teori dan tuduhan tersebut.

Unggahan Neneng acap viral dan banyak disukai warganet, terutama karena gaya bahasanya yang sederhana tapi mengandung pesan tajam dan menggelitik, bahkan tak jarang ‘menampar’.

Tak heran, istilah ‘Nenengisme’ semakin menyebar, pengikutnya di Facebook semakin banyak, kini lebih dari 47 ribu akun. Tak hanya terbatas di Facebook, unggahan Neneng kini juga ramai disebar dan menjadi perbincangan di X (dulu Twitter).

‘Nenengisme’ dan gaya komunikasi lingkungan yang membumi

Dari perspektif komunikasi lingkungan, bahasa Neneng sangat menarik untuk dibedah. Kehadiran Neneng menjadi kritik atas kampanye lingkungan di Indonesia yang sering terjebak dalam narasi elitis dengan terminologi rumit seperti “net-zero” atau “carbon offsetting” yang asing bagi masyarakat desa—padahal mereka adalah garda terdepan menghadapi dampak krisis iklim.

Alih-alih menggunakan kosakata umum sehari-hari, para intelek lebih suka memakai ‘bahasa langit’ saat membahas isu-isu publik seperti krisis iklim. Kesenjangan ini menciptakan jurang yang dalam antara bahasa ilmiah dan kenyataan, sehingga membuat pesan tak sampai.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.