Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Indonesia Tertinggal Jauh dalam Teknologi Kuantum, Kalah dari Negara Tetangga

📅 Jumat, 26 Jun 2026, 10:45 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Indonesia Tertinggal Jauh dalam Teknologi Kuantum, Kalah dari Negara Tetangga Doc: istimewa
Ket. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyoroti lambatnya percepatan teknologi kuantum di Tanah Air. Menurutnya, ketertinggalan ini tidak bisa dilepaskan dari fokus kebijakan yang masih berkutat pada isu dasar

JAKARTA – Indonesia dinilai masih tertinggal jauh dalam pengembangan teknologi kuantum dibandingkan negara maju maupun tetangga ASEAN. Kesiapan ekosistem riset, investasi, dan industri berteknologi tinggi dinilai belum menjadi prioritas nasional, padahal teknologi ini akan mengubah peta ekonomi global.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyoroti lambatnya percepatan teknologi kuantum di Tanah Air. Menurutnya, ketertinggalan ini tidak bisa dilepaskan dari fokus kebijakan yang masih berkutat pada isu dasar. 

"Indonesia masih mengurus program makan bergizi gratis (MBG) karenanya tertinggal dalam hal teknologi kuantum," seloroh Huda, Jumat (26/6)

Huda menegaskan, kesiapan teknologi Indonesia saat ini masih sangat jauh dibandingkan Amerika Serikat sebagai negara maju. Bahkan bila dibandingkan negara tetangga ASEAN, posisi RI juga jauh tertinggal.

"Jangan jauh-jauh ke AS, dengan Malaysia dan Viet Nam pun kita kalah jauh. Ada perusahaan teknologi global yang berinvestasi di Malaysia dan Viet Nam. Mereka sudah memproduksi barang-barang berteknologi tinggi untuk diekspor. Sedangkan Indonesia ekspornya masih ekspor komoditas. Itu saja sudah berbeda," jelasnya.

Menurut Huda, perbedaan orientasi ekspor itu mencerminkan kedalaman struktur industri. Ketika Malaysia dan Vietnam sudah masuk ke rantai pasok produk elektronik, semikonduktor, dan komponen berteknologi tinggi, Indonesia masih dominan mengekspor bahan mentah dan komoditas.

Kesenjangan itu juga terlihat dari peringkat daya saing digital global. Huda merujuk IMD World Digital Competitiveness Ranking (WDCR) sebagai salah satu tolok ukur. 

"Untuk indeks lainnya semacam IMD World Digital Competitiveness Ranking (WDCR) juga Indonesia masih kalah jauh dengan negara tetangga. Apalagi jika dibandingkan dengan AS," katanya.

Ia menambahkan, Indonesia juga belum membicarakan soal infrastruktur digital secara serius. "Kita masih belum bisa memproduksi hardware di dalam negeri, termasuk chip atau semikonduktor. Padahal itu penting untuk pengembangan teknologi yang tambah cepat maka butuh teknologi chip yang semakin canggih," ujar Huda.

*Ancaman ke Keamanan Siber & Data Nasional*

Huda menilai teknologi kuantum bukan lagi isu masa depan. Negara seperti AS, China, Kanada, hingga Singapura sudah menyiapkan strategi nasional, dana riset besar, dan kolaborasi industri-universitas sejak 10 tahun lalu. Padahal teknologi ini akan berdampak langsung ke keamanan siber, enkripsi data, hingga optimasi jaringan digital nasional.

"Kalau sekarang kita masih lambat, nanti ketika komputer kuantum sudah komersial, infrastruktur digital kita bisa rentan. Enkripsi yang dipakai bank, e-commerce, data pemerintah bisa jebol. Kita harus siapkan SDM, regulasi, dan riset dari sekarang," tegas Huda.

Celios sebelumnya mencatat, penguatan ekonomi digital tidak cukup hanya dengan pemerataan akses internet. Pemerintah perlu mendorong hilirisasi digital, investasi R&D, dan insentif bagi industri berteknologi tinggi agar tidak terjebak di "middle tech trap".

Huda mendorong pemerintah segera menyusun peta jalan teknologi kuantum nasional. Langkah itu penting agar Indonesia tidak semakin jauh tertinggal dan bisa mengejar ketertinggalan dari Malaysia serta Vietnam dalam 5-10 tahun ke depan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

KPK Berharap Nusron Wahid Kooperatif

35 menit yang lalu | Ones

Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

43 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

43 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.