Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Membaca 'Nenengisme' dan Kegagalan Komunikasi Iklim Menjangkau Akar Rumput

📅 Senin, 19 Mei 2025, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis

Petani seperti Neneng mungkin tidak mengenal istilah “resiliensi komunitas”, tapi mereka tahu kapan harus pindah lahan ketika tanah sudah tidak lagi subur. Mereka mungkin juga tak paham terminologi ilmiah “strategi adaptasi iklim”, tapi  punya cara sendiri untuk bangkit setelah gagal panen akibat musim yang tak menentu lantaran perubahan iklim.

Pesan Neneng juga terkadang mengandung humor yang membuatnya terasa ringan dan mudah diterima, meskipun kadang terkesan sinis. “Lahan terbatas bukan halangan, kami menerapkan metode tumpang sari…” curhat Neneng, sebuah satir yang kontras dengan praktik monokultur ala food estate.

Di tengah diskusi perubahan iklim yang seringkali bernuansa muram dan berat, satire berbalut humor bisa menjadi cara ampuh menyampaikan pesan yang tetap lugas, namun tidak menggurui.

Belajar komunikasi dari Neneng

Komunikasi iklim sering terjebak sebagai upaya menyampaikan informasi dari pihak “yang lebih tahu” kepada publik, termasuk masyarakat adat atau warga desa. Padahal kita lah yang seharusnya belajar dari mereka. Masyarakat adat punya kearifan lokal dan sudah lama terbukti menjaga keberlanjutan—bahkan sebelum istilah “sustainability” ramai digunakan.

Komunikasi bukan hanya sekadar menyampaikan informasi, tapi juga proses membangun dialog dan partisipasi. Karena itu, kita perlu memahami pandangan dunia mereka, serta konteks sosial, psikologis, dan ekonominya agar bisa relevan dengan masyarakat.

Bahasa Neneng menyingkap kegagalan komunikasi kita menjangkau akar rumput, sehingga potensi “Nenengisme” untuk mengubah cara komunikasi lingkungan layak digali.

Fenomena ini mengingatkan bahwa kampanye yang efektif harus berangkat dari bahasa, nilai, dan realitas masyarakat yang dituju—bukan sekadar menerjemahkan istilah ilmiah ke bahasa lokal. Kita perlu mengakui bahwa pengetahuan lingkungan bersumber dari kearifan lokal dan pengalaman hidup sehari-hari, bukan hanya dari jurnal dan laboratorium.

Untuk mencapai perubahan nyata, kita harus mengangkat masalah ketidakadilan struktural dalam narasi lingkungan. Masyarakat akar rumput bukan tidak memahami berbagai persoalan krisis iklim, tapi mereka tersandera dalam sistem yang membatasi pilihan.

Penting bagi kita untuk menempatkan mereka sebagai subjek aktif dalam mengatasi krisis lingkungan, bukan sekadar objek kampanye. Mereka tahu tanggung jawab menjaga lingkungan seharusnya dipikul lebih besar oleh industri dan pembuat kebijakan. Tapi mereka juga tahu, kekuasaan tak berpihak pada mereka.

Inilah esensi dari komunikasi lingkungan yang membumi: peka terhadap realitas sosial, memberi ruang partisipasi, dan membuka jalan bagi solusi yang mempertimbangkan realitas kehidupan masyarakat. Dan sepertinya kita bisa belajar dari Neneng Rosdiyana yang sudah sukses melakukannya.The Conversation

Snezana Swasti Brodjonegoro, PhD Candidate, The University of Queensland dan Ardhana Riswarie, PhD Candidate, Australian National University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Piala AFF 2026: Prediksi Line Up Indonesia vs Vietnam,  Herdman Siapkan Formasi Terbaik.

Piala AFF 2026: Prediksi Line Up Indonesia vs Vietnam, Herdman Siapkan Formasi Terbaik.

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.