Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ini Alasan Rhenald Kasali Mundur dari Jabatan Komisaris Utama PT Pos Indonesia

📅 Rabu, 30 Apr 2025, 11:05 WIB | Oleh:
Ini Alasan Rhenald Kasali Mundur dari Jabatan Komisaris Utama PT Pos Indonesia Doc: ANTARA
Ket. Akademisi dan praktisi bisnis, Prof Rhenald Kasali saat hadir dalam wisuda ke-130 Untag Surabaya, Sabtu (22/2/2025).

JAKARTA - Ekonom Rhenald Kasali mengungkapkan alasannya mundur sebagai presiden komisaris (komisaris utama) PT Pos Indonesia (Persero) per 20 April 2025.

Ia mengungkapkan sudah meminta untuk mundur sejak awal tahun ini karena beberapa alasan, termasuk untuk menerima penugasan baru dalam bisnis internasional di Inggris, serta mengembangkan Rumah Perubahan yang ia dirikan.

“Saya sudah sejak awal tahun minta berhenti, karena Rumah Perubahan membutuhkan saya, selain itu saya dapat penugasan baru di luar negeri. Jadi Maret lalu saya menulis surat dan awal April saya harus ke UK,” kata Rhenald kepada Antara di Jakarta, Rabu.

Rhenald telah menjabat sebagai komisaris utama PT Pos Indonesia selama empat tahun terakhir. Sebelumnya, guru besar Universitas Indonesia itu juga pernah menjabat sebagai presiden komisaris PT Telkom Indonesia dan PT Angkasa Pura 2.

Setelah kepergiannya, Rhenald menyoroti sejumlah tantangan yang telah menanti PT Pos Indonesia ke depan, yaitu dari sisi arus kas (cashflow), pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan kompetisi bisnis.

Dari sisi arus kas, Rhenald menilai PT Pos Indonesia yang memiliki cukup banyak pegawai berpotensi untuk mengalami tekanan.

“PT Pos ini pegawainya banyak. Tekanan cashflow akan sangat merepotkan karena berbagai hal,” kata Rhenald.

Berbagai hal itu, lanjut Rhenald, adalah pertama, jasa pos sudah hampir habis, sehingga membuat pasar atau market-nya nyaris hilang. Hal ini juga beriringan dengan bisnis logistik yang belum membuahkan hasil dan kompetisinya terbilang ketat.

“Ketiga adalah efisiensi anggaran ini berakibat pendapatan dari negara terancam, dan keempat beban biaya yang meningkat,” ujar Rhenald.

Lebih lanjut, dari sisi kualitas SDM, Rhenald menilai masih banyaknya pejabat setingkat di bawah direksi yang kurang kualifikasi, bahkan tingkat pendidikan SLTA.

“Ini tentu perlu perhatian, apalagi mereka membawahi orang-orang muda yang pendidikannya S2,” kata dia.

Sementara dari sisi kompetisi, PT Pos Indonesia memiliki beban biaya tetap. “PT Pos hadir sampai ke daerah-daerah terpencil, namun asetnya juga besar-besar di tengah kota dan merupakan gedung bersejarah,” kata Rhenald.

“Banyak bangunan yang perlu direnovasi. Di sisi lain, bangunan ini menyandang biaya tetap yang tinggi,” ujarnya menambahkan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Nasional
Kemenperin Dorong Gen Z Kem...
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.