Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Film “Mudik” dan Gambaran Beban Sosial Saat Pulang Kampung

📅 Sabtu, 29 Mar 2025, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis

Dalam budaya masyarakat Jawa (sekaligus latar budaya dalam film “Mudik”), laki-laki merupakan pemberi nafkah dan pelindung yang mewujudkan nilai-nilai Lelananging Jagad. Nilai ini—menekankan pada kekuatan, kebijaksanaan, dan dominasi—tertanam secara mendalam dalam narasi budaya Jawa.

Berikut penggalan kutipan dialog yang terjadi dalam adegan konflik pernikahan antara Firman dan Aida:

Aida        : Aku, aku ninggalin kamu karena kamu berubah. Kamu berubah setelah kamu tahu kalau aku gak bisa punya anak.

Firman      : Itu lagi.

Aida        : Kok itu lagi, kamu pikir masalah kita itu kecil, masalah kita itu Firman. Aku pergi tuh biar punya waktu untuk mikir kalau aku layak apa enggak kamu perlakukan kaya gini. Kenapa harus ada orang lain? Jawab! Jawab! Lihat aku.

Firman      : Keluargaku, mereka udah kasih izin kalau aku boleh punya istri lagi.

Dialog ini menyiratkan bahwa ketidakhadiran anak dianggap sebagai kegagalan pasangan yang sudah menikah dalam memenuhi ekspektasi sosial mengenai kepemilikan keturunan.

Selain itu, film ini juga menggambarkan Aida yang berjuang menghadapi ekspektasi masyarakat di kampungnya mengenai kondisi infertilitasnya.

Prinsip Kanca Wingking dalam masyarakat Jawa menyiratkan bahwa perempuan harus memiliki kemampuan untuk berdandan (Macak), mengurus anak (Manak), dan memasak (Masak). Ketidakhadiran kemampuan tersebut seringkali menimbulkan stigma sosial yang tidak memedulikan pencapaian pribadi dan profesional perempuan.

Harapan ini kemudian merampas hak Aida, dan menempatkannya dalam posisi subordinat (di bawah otoritas pihak lain) dalam ekspektasi sosial yang menekannya tanpa henti. Sepanjang film, Aida sering kali terdiam dan melamun, juga tenggelam dalam pikirannya yang dipenuhi tuntutan tentang perannya sebagai istri.

Dalam salah satu adegan, pikiran Aida yang kalut bahkan terlihat mengganggu konsentrasinya mengemudi sehingga menyebabkan kecelakaan. Kamera juga berulang kali menyoroti momen ketika ia memandangi keluarga-keluarga lain yang bermain dengan anak mereka dan memperlihatkan tatapannya yang kosong dan penuh kesedihan.

Adegan ini diperkuat dengan momen Aida menangis dalam kesunyian. hal ini memperlihatkan penderitaan emosional yang harus ia tanggung demi mempertahankan penikahannya yang terus menghakiminya atas sesuatu yang berada di luar kendalinya.

Ekspektasi untuk menjadi sempurna

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.