Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Film “Mudik” dan Gambaran Beban Sosial Saat Pulang Kampung

📅 Sabtu, 29 Mar 2025, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Film “Mudik” dan Gambaran Beban Sosial Saat Pulang Kampung Doc: YouTube/Lifelike Pictures
Ket. Poster film "Mudik".

Oleh  Jordy Satria Widodo, Universitas Pakuan

Selain menjadi tradisi pulang kampung, mudik adalah arena orang-orang untuk berhadapan dengan ekspektasi masyarakat yang sudah tertanam dari generasi ke generasi.

Keluarga dan masyarakat menggunakan momen berkumpul untuk mengevaluasi dan memperkuat nilai-nilai tradisional yang kerap diiringi dengan ekspektasi sosial tertentu.

Sebagai contoh, perempuan yang belum menikah, pasangan tanpa anak, atau laki-laki yang dianggap belum sukses secara finansial sering menjadi sorotan karena dianggap belum memenuhi harapan.

Percakapan selama mudik kerap berputar pada pertanyaan, seperti “Kapan mau punya anak?”, “Kapan nikah?”, “Kapan nambah anak?”, “Kapan kerja?”, atau “Kenapa karier lebih penting daripada keluarga?”.

Jenis-jenis pertanyaan ini menciptakan tekanan terus-menerus untuk menyesuaikan diri dengan peran yang atau posisi yang dianggap ideal.

Tekanan ini tergambarkan secara kritis dalam Film Mudik (2019) karya Adriyanto Dewo. Film ini menerangkan bagaimana  norma sosial yang berkembang dalam masyarakat tradisional memengaruhi ekspektasi masyarakat mengenai laki-laki dan perempuan dalam institusi pernikahan.

Kisah dari Mudik

Film Mudik mengisahkan Firman dan Aida, kedua tokoh yang mengalami konflik pernikahan karena tidak mampu memenuhi harapan-harapan masyarakat.

Di tengah konflik, pasangan ini—yang tinggal di Jakarta—memutuskan untuk mudik ke Yogyakarta dengan harapan memperbaiki hubungan mereka yang sedang tidak harmonis.

Namun, alih-alih membaik, mudik justru membuat konflik semakin dalam.

Aida yang berjuang melawan stigma sosial karena tak bisa memiliki anak semakin terpojok ketika Firman berniat menikah lagi.

Sementara Firman tertekan ekspektasi keluarga untuk memberikan keturunan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Ekonomi
Neraca perdagangan Indonesi...
Nasional
Presiden Prabowo lantik Wan...
Olahraga
Fitriani/Fadona melaju ke f...
Rona
7 Drama Korea Baru Wajib Di...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.