Film “Mudik” dan Gambaran Beban Sosial Saat Pulang Kampung
📅 Sabtu, 29 Mar 2025, 15:30 WIB | Oleh: Tim PenulisGambaran ini menunjukkan bagaimana kondisi infertilitas Aida memberikan tekanan sosial terhadap dirinya. Hal tersebut merupakan ekspektasi masyarakat mengenai kesempurnaan seorang istri dalam menjalankan fungsi reproduktifnya.
Ketegangan dalam hubungan pernikahan Firman dan Aida semakin mencuat ketika mereka terlibat dalam kecelakaan yang merenggut nyawa seseorang warga desa. Kejadian itu menjadi titik balik dengan menyoroti realitas pahit dari ekspektasi sosial yang selama ini mereka hadapi.
Adegan perpisahan Firman dan Aida menandai momen Aida mengambil kendali atas hidupnya, dan menolak tunduk pada norma yang menuntutnya untuk bertahan dalam pernikahan demi ekspektasi sosial.
Sepanjang film, ia dihantui tekanan menjadi istri “sempurna.” Melalui interaksi dengan Santi, istri korban, Aida semakin menyadari betapa perempuan sering kali dipaksa untuk menerima penderitaan dalam diam demi mempertahankan pernikahan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keputusannya untuk berpisah bukanlah kegagalan, melainkan keberanian mendefinisikan kebahagiaannya sendiri. Dengan ekspresi yang berubah dari ragu menjadi mantap, Aida menegaskan bahwa ia siap menentukan jalannya dan menjadikan perpisahan ini sebagai simbol kebebasan.
Mudik dan ekspektasi gender
Tradisi seperti Mudik memang memiliki nilai budaya yang mendalam. Namun, tradisi ini perlu menyesuaikan perubahan dinamika gender.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seiring modernisasi terjadi di Indonesia, peran gender tradisional semakin sering ditantang. Contohnya, perempuan semakin terlibat di pendidikan, dunia kerja, dan ruang publik. Selain itu, kian banyak pula laki-laki yang ikut serta dalam pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga.
Film Mudik berfungsi sebagai media yang ampuh untuk menantang ekspektasi sosial ini. Dengan mengambarkan perjuangan pribadi dalam kerangka tradisional, film ini mendorong penonton untuk merenungkan tekanan yang dihadapi individu dalam menyesuaikan diri dengan norma-norma masyarakat..
Yang lebih penting, film ini mendorong diskusi tentang bagaimana budaya dapat merangkul keberagaman dalam pilihan hidup tanpa memaksakan peran gender yang kaku.
Kesuksesan seharusnya tidak ditentukan oleh status pernikahan, kemampuan reproduksi, atau kondisi ekonomi seseorang saja, tetapi oleh kepuasan dan kebahagiaan pribadi.
Mudik sebagai tradisi seharusnya menjadi momen untuk berkumpul kembali dan berefleksi yang bebas dari beban penilaian masyarakat. Hanya dengan seperti itu, tradisi mudik dapat benar-benar menjadi sebuah kepulangan sebenarnya.
Jordy Satria Widodo, Dosen Kajian Sastra dan Budaya, Universitas Pakuan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!