Crypto Mining Butuh Energi Besar, Bisakah Kripto Ramah Lingkungan?
📅 Senin, 30 Sep 2024, 16:00 WIB | Oleh: Tim PenulisPerkembangan terbaru menujukkan bahwa beberapa pelaku industri ini telah mengimplementasikan penggunaan alat dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.
Beberapa perusahaan seperti Mara dan Argo mengembangkan teknologi sistem pendingin imersi yang diklaim membuat aktivitas menambang jadi efisien.
Perusahaan-perusahaan ini juga sedang mengembangkan sistem yang dapat mendaur ulang panas yang dihasilkan oleh aset digital serta pusat data, dan mengarahkannya) untuk menyediakan energi bagi komunitas. Penerapan teknologi ini dipermudah oleh mobilitas relatif penambang kripto dan peluang yang ditawarkan oleh beberapa pemerintah dan daerah kepada mereka.
Selain itu, industri kripto telah melihat kemunculan mata uang kripto yang mengklaim ramah lingkungan, seperti blockchain publik Cardano dan Powerledger. Mata uang ini menggunakan mekanisme yang rendah energi yang disebut "proof-of-stake" (POS) daripada POW.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berbeda dengan POW, penambang POS harus mempertaruhkan kepemilikan mata uang kripto mereka saat memvalidasi dan memverifikasi transaksi. Jika penambang mencoba memalsukan catatan, mereka berisiko kehilangan taruhan mereka. Proses ini menghilangkan kebutuhan untuk perhitungan komputer yang kompleks dan secara drastis mengurangi penggunaan energi. Faktanya, pada tahun 2022, mata uang kripto Ethereum beralih dari POW ke POS, mengurangi konsumsi energinya hampir 100%.
Jalan menuju kripto yang ramah lingkungan semakin dipermudah oleh lembaga seperti Dewan Stabilitas Keuangan, yang mengambil langkah untuk menyediakan kerangka kerja dalam memahami, mematuhi, dan mencapai tujuan serta nilai ESG.
Kolaborasi antar semua pihak yang berkepentingan dapat membuka pintu menuju masa depan akan kesadaran investor terkait kesempatan yang ada pada mata uang kripto.![]()
Sebaiknya Anda baca juga:
Jean Bessala, Lecturer in Finance, Salford Business School, University of Salford
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!