Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Crypto Mining Butuh Energi Besar, Bisakah Kripto Ramah Lingkungan?

📅 Senin, 30 Sep 2024, 16:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Crypto Mining Butuh Energi Besar, Bisakah Kripto Ramah Lingkungan? Doc: The Conversation/Shutterstock/Rafapress
Ket. Ketika mata uang kripto Ethereum mengubah prosesnya, ia memangkas penggunaan energinya hingga hampir 100%.

Jean Bessala, University of Salford

Mata uang kripto kerap dikritik karena minimnya kontribusi terhadap lingkungan di saat kegiatan investasi tradisional beralih ke nilai lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dengan lebih progresif. Akankah kripto mendapatkan kredensial hijau atau ramah lingkungannya?

Seperti yang diketahui, investasi hijau terdiri dari aset seperti obligasi yang mendanai proyek yang berkesinambungan terhadap lingkungan dan sosial. Obligasi hijau, misalnya, berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca, peningkatan kapasitas energi terbarukan, dan pengembangan infrastruktur transportasi bersih.

Di sisi lain, investasi kripto umumnya dianggap tidak ramah lingkungan, karena penambangan kripto membutuhkan energi (listrik) besar. Penambangan dalam konteks kripto merujuk pada mekanisme yang disebut "proof of work" (POW). Para "penambang" kripto kerap menggunakan komputer khusus untuk memecahkan program yang kompleks untuk mengamankan transaksi dan menciptakan koin baru yang notabene memerlukan sumber energi besar.

Beragam organisasi seperti Badan Energi Internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyampaikan kekhawatiran mereka tentang dampak penambangan kripto, khususnya Bitcoin yang menjadi aset kripto paling populer.

Jejak lingkungan kripto

Institut Pengetahuan PBB tentang air, lingkungan, dan kesehatan memperkirakan jaringan Bitcoin berdampak pada karbon, air, dan lahan yang signifikan sepanjang tahun 2020-2021. Karbon yang dihasilkan Bitcoin pada termin tersebut setara dengan pembakaran 38 miliar ton batubara. Sementara jumlah air (terutama untuk sistem pendingin) yang terpakai dapat memenuhi kebutuhan air domestik lebih dari 300 juta orang di sub-Sahara Afrika.

Indeks Keberlanjutan Jaringan Blockchain Cambridge melansir konsumsi listrik jaringan Bitcoin lebih tinggi daripada beberapa negara maju, termasuk Norwegia dan Swedia. Bagi investor yang pro terhadap ESG, hal-hal ini akan membuat mereka kehilangan minat.

Ini kian dipersulit dengan minimnya pengawasan yang mengatur kripto. Setelah bertahun-tahun berada di pinggiran pasar keuangan dan dianggap sebagai usaha yang bikin 'kaya instan' investasi kripto kini makin mainstream. Namun, regulasi yang melindungi investor dan memastikan peserta mengikuti praktik yang sesuai dengan nilai ESG masih minim.

Para spekulator turut memberi sumbangsih yang memberi imaji buruk terhadap utilisasi mata uang kripto dengan praktik-praktik negatif seperti kasus pencucian uang, penipuan, dan manipulasi harga.

Memang, diskursus "hijau" bagi kripto memiliki lebih banyak argumen yang memberatkan. Namun, tidak adil jika hanya melihat satu sisi dari koin ini. Faktanya, kripto memiliki jalur yang menantang-tetapi masih mungkin diterima secara luas-sebagai investasi ramah lingkungan.

Industri kripto mengurangi karbon

Para pelaku industri kripto itu sendiri mengakui perlunya mengubah praktik dan proses ke arah yang lebih berkelanjutan. Pada tahun 2021, sejumlah besar pelaku dalam industri kripto menandatangani Crypto Climate Accord (CCA) dengan target jangka panjang untuk mengurangi emisi karbon di industri kripto global pada tahun 2040.

CCA menetapkan dua objektif (sementara). Pertama, pengembangan standar dan teknologi untuk memiliki blockchain yang sepenuhnya menggunakan energi terbarukan paling lambat pada tahun 2025. Kedua, menyatakan bahwa para penandatangan harus mencapai emisi nol bersih dari konsumsi listrik pada tahun 2030.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Persoalan HAM Harus Diseles...
Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.