Menulis Kembali Wajah Aceh di Pantai Kampung Jawa Setelah 20 Tahun Lalu Dihantam Tsunami
📅 Minggu, 15 Sep 2024, 22:43 WIB | Oleh: Tim PenulisTak hanya menggerakkan tangan dan kaki untuk memindahkan layar, para ofisial juga tak lupa berteriak mengalahkan dentum ombak dan gemuruh angin yang berisik siang itu, seakan menyumbang semangat dan doa yang lantang bagi atlet andalannya.
Satu per satu atlet mulai berlayar dan meninggalkan Pantai Kampung Jawa menuju titik mulai perlombaan dari masing-masing kelas.
Meskipun jalannya perlombaan tidak dapat dilihat jelas dari pantai imbas jarak yang jauh dari pandangan mata, sebagian besar warga penonton tetap setia menunggu.
Mereka menatap kosong ke arah laut, seolah-olah bisa menyaksikan jalannya perlombaan. Tampaknya mereka tetap setiap berdiri di area pantai, tak peduli siapa yang menang atau kalah, tapi untuk tetap menjadi bagian dari momen bersejarah itu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pukul 12.00 WIB, tiba-tiba angin semakin kencang dan hari semakin terik. Sebagian warga mencari keteduhan di warung-warung kopi yang ada di sekitar pantai.
Sebagian lagi tak mau tau. "Kami datang untuk menonton, bukan untuk berteduh," demikian tersirat dari wajah warga yang seragam memicingkan mata ke arah laut sambil terbakar terik Matahari dan digoyang sana-sini oleh angin.
Hari ini, cabang olahraga layar melombakan sedikitnya delapan kelas dengan sekitar 50-an atlet yang terlibat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Setiap kelas pun berisi tiga sampai dengan empat balapan, tergantung dari kondisi ombak, angin dan keputusan panitia.
Pada pukul 14.39 WIB, sejumlah atlet yang selesai berlomba merapat kembali ke Pantai Kampung Jawa.
Para ofisial masing-masing atlet terjun ke laut untuk menyambut atletnya yang berusaha melabuhkan layarnya ke pinggir pantai.
Sorak warga pun pecah menyambut atlet yang basah kuyup dengan wajah terbakar terik Matahari. Mereka seperti menyambut para pahlawan yang baru saja pulang dari medan perang.
Warga yang ada juga tak lupa melepas "pedang" gawai dari sarungnya dan mengabadikan momen bersejarah itu.
Sebagian ofisial nampak dengan sigap mendorong gerobak ke tepi pantai untuk membopong "senjata" peraih medali para atlet ke bendera masing-masing provinsi. Di titik parkir layar, selang air bersih sudah siap untuk menyapu lapisan garam pada tubuh layar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!