Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Petani Irak Berinovasi demi Selamatkan Produksi Beras Dalam Negeri

📅 Sabtu, 10 Agu 2024, 02:36 WIB | Oleh: Tim Penulis
Petani Irak Berinovasi demi Selamatkan Produksi Beras Dalam Negeri Doc: AFP/Qassem al-KAABI
Ket. Tinggalkan Metode Tradisional l Seorang petani di Mishkhab, Provinsi Najaf, Irak, sedang mengatur alat penyiram di lahan pertaniannya pada awal Juli lalu. Setelah musim kemarau panjang dan semakin kecilnya curah hujan, para petani di Irak harus meninggalkan metode tanam padi tradisional dan menggunakan benih padi yang tangguh dan teknik modern yang mengkonsumsi lebih sedikit air untuk lahan persawahannya.

Setelah sawahnya yang subur menyusut dalam beberapa tahun terakhir karena kekeringan yang tiada henti, petani Irak bernama Muntazer al-Joufi melakukan perlawanan dengan menggunakan benih yang lebih tangguh dan teknik irigasi yang hemat air.

"Ini pertama kalinya kami menggunakan teknik modern yang mengkonsumsi lebih sedikit air untuk menanam padi," kata Joufi, 40 tahun, saat mengamati lahannya di Provinsi Najaf, Irak tengah. "Ada perbedaan besar dibandingkan dengan membanjiri lahan," imbuh Joufi, mengacu pada metode tradisional dimana lahan harus tetap terendam sepanjang musim panas.

Namun kekeringan selama empat tahun berturut-turut dan menurunnya curah hujan telah menghambat produksi beras di Irak, yang masih dalam masa pemulihan dari perang dan kekacauan selama bertahun-tahun, dan di mana beras dan roti merupakan makanan pokok.

PBB mengatakan Irak adalah salah satu dari lima negara paling rentan terhadap perubahan iklim di dunia.

Joufi adalah salah satu petani yang menerima dukungan dari Kementerian Pertanian Irak, yang para ahlinya telah mengembangkan metode inovatif untuk menyelamatkan produksi beras di negara berjuluk Negeri 1001 Malam itu.

Tugas para ahli itu meliputi memadukan benih padi yang unggul dengan sistem irigasi modern untuk menggantikan metode banjir di negara yang kerap dilanda kelangkaan air, gelombang panas, dan menyusutnya sungai itu.

Di bawah terik matahari Irak, dengan suhu yang melonjak hingga 50 derajat Celsius, Joufi berjalan dengan susah payah melintasi ladang berlumpur, berhenti sejenak untuk merawat alat penyiram yang tidak berfungsi di lahan seluas satu hektare.

Tanaman padi Irak biasanya membutuhkan antara 10 hingga 12 miliar meter kubik air selama masa tanam lima bulan. Namun, para ahli mengatakan metode baru yang menggunakan alat penyiram dan irigasi tetes menggunakan air 70 persen lebih sedikit dibandingkan praktik banjir tradisional, ketika para pekerja harus memastikan lahan benar-benar tertutup air.

Saat ini, kata Joufi, hanya dibutuhkan satu orang saja untuk menyalakan alat penyiram dan air dapat menjangkau seluruh lahan.

Pakar dari Kementerian Pertanian Irak mengatakan bahwa selama tahun-tahun kekeringan, luas lahan yang ditanami padi menyusut dari lebih dari 30.000 hektare menjadi hanya 5.000 hektare.

"Karena kekeringan dan kelangkaan air, kita harus menggunakan teknik irigasi modern dan benih baru," kata Abdel Kazem Jawad Moussa, yang memimpin tim ahli tersebut.

Mereka telah bereksperimen dengan berbagai jenis alat penyiram, irigasi tetes, dan lima jenis benih berbeda yang tahan terhadap kekeringan dan mengkonsumsi lebih sedikit air dengan harapan menemukan kombinasi terbaik.

"Kami ingin mempelajari genotipe benih mana yang merespons dengan baik terhadap irigasi yang menggunakan alat penyiram dibandingkan dengan metode membanjiri lahan," kata Moussa.

Tahun lalu, Al-Ghari, genotipe yang berasal dari beras kuning Irak yang berharga, dan beras melati Asia selatan, memberikan hasil yang baik bila dibudidayakan dengan alat penyiram kecil, sehingga para ahli menawarkan kombinasi tersebut kepada petani seperti Joufi, dengan harapan mendapatkan yang terbaik.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Nasional
Pengungkapan Narkotika Keta...

Kemeriahan Gebyar PAUD Yogyakarta 2026

4 jam yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Kemeriahan Gebyar PAUD Yogy...
Megapolitan
Pelatihan Mengemudi Becak L...
Olahraga
Ganda Campuran Indonesia Ra...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.