Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tiongkok Respons Pernyataan Presiden Filipina soal Laut Tiongkok Selatan

📅 Jumat, 15 Mar 2024, 01:12 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tiongkok Respons Pernyataan Presiden Filipina soal Laut Tiongkok Selatan Doc: ANTARA/Desca Lidya Natalia
Ket. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin saat menyampaikan keterangan kepada media di Beijing, Tiongkok pada Kamis (14/03/2024).

Beijing - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin merespons pernyataan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. di hadapan Kanselir Jerman Olaf Scholz soal Laut Tiongkok Selatan.

"Tiongkok tidak pernah mengklaim bahwa seluruh Laut Tiongkok Selatan adalah milik Tiongkok. Pihak Filipina menuduh Tiongkok mengklaim seluruh perairan di dalam garis putus-putus sebagai wilayahnya padahal hal ini tidak sejalan dengan fakta dan merupakan distorsi yang disengaja terhadap posisi Tiongkok," kata Wang Wenbin saat menyampaikan keterangan kepada media di Beijing, Tiongkok pada Kamis (14/3).

Dalam konferensi pers bersama Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Presiden Filpina Ferdinand Marcos Jr. (12/3), Marcos Jr mengatakan Filipina berkomitmen terhadap tatanan internasional berbasis aturan, ingin menyelesaikan masalah Laut Tiongkok Selatan melalui dialog, namun juga bertekad untuk mempertahankan hak kedaulatannya.

Presiden Marcos Jr mengatakan alasan yang dibuat Tiongkok bahwa perairan milik Tiongkok mengikuti apa yang sekarang disebut sebagai "10 Garis Putus-Putus" tidak dapat diterima karena tidak diakui oleh negara mana pun, badan internasional mana pun, dan tentu saja tidak oleh Filipina.

"Tiongkok adalah negara pertama yang menemukan, memberi nama, mengeksplorasi, dan mengeksploitasi Nanhai Zhudao dan perairan terkait, serta merupakan negara pertama yang menjalankan kedaulatan dan yurisdiksi atas Nanhai Zhudao dan perairan terkait secara terus-menerus, damai, dan efektif," tambah Wang Wenbin.

Setelah Perang Dunia II, pemerintah Tiongkok, menurut Wang Wenbin, memulihkan dan melanjutkan pelaksanaan kedaulatan atas Nanhai Zhudao yang telah diduduki secara ilegal oleh Jepang selama perang melawan Tiongkok berdasarkan Deklarasi Kairo dan Perjanjian Potsdam.

"Tiongkok memiliki kedaulatan teritorial dan hak serta kepentingan maritim di Laut Cina Selatan, termasuk kedaulatan atas Nanhai Zhudao; perairan dalam, laut teritorial dan zona tambahan. Berdasarkan Nanhai Zhudao, Tiongkok memiliki zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen maupun
bersejarah di Laut Cina Selatan. Posisi Tiongkok itu konsisten dengan hukum dan praktik internasional yang relevan," jelas Wang Wenbin.

Wang Wenbin menyebut sejak 1948, pemerintah Tiongkok secara resmi mengeluarkan "garis putus-putus", yang telah dilakukan pemerintah Tiongkok sejak awal dan tidak pernah dipertanyakan oleh negara mana pun.

"Filipina harus berhenti menyesatkan komunitas internasional, menggunakan isu Laut Cina Selatan untuk memicu perselisihan dan mengandalkan kekuatan eksternal untuk merusak perdamaian dan stabilitas di kawasan Laut Cina Selatan," tambah Wang Wangbin.

Untuk mengatasi masalah Laut Tiongkok Selatan, Wang Wenbin mengatakan, Tiongkok siap untuk mengatasi perbedaan maritim melalui negosiasi dan konsultasi dengan negara-negara terkait berdasarkan penghormatan fakta sejarah.

"Sambil menunggu penyelesaian atas perbedaan yang ada, Tiongkok juga siap bekerja sama dengan negara-negara yang berkepentingan langsung untuk mengelola situasi di laut, melakukan kerja sama maritim yang saling menguntungkan dan bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut Cina Selatan," ungkap Wang Wenbin.

Ia juga memperingatkan negara di luar kawasan dan tidak terkait langsung agar tidak berupaya ikut campur dalam persoalan itu.

"Amerika Serikat AS telah melakukan perjalanan ke belahan dunia lain hingga ke Tiongkok untuk membentuk lingkaran eksklusif, mengerahkan kekuatan, dan melakukan provokasi. Tiongkok bertekad untuk menegakkan hak-haknya dan akan dengan tegas menanggapi upaya negara mana pun yang melanggar hak dan kepentingan kedaulatan Tiongkok," tegas Wang Wenbin.

Pemerintah Tiongkok mengklaim memiliki hak kedaulatan dan yurisdiksi yang tidak dapat disangkal atas kepulauan yang disebut "Nanhai Zhudao" di Laut Tiongkok Selatan yaitu terdiri dari Dongsha Qundao, Xisha Qundao, Zhongsha Qundao dan Nansha Qundao dan perairan di sekitarnya.

Dongsha, Xisha, Nansha, and Zhongsha mengacu pada empat kepulauan yang lebih dikenal sebagai Kepulauan Pratas, Kepulauan Paracel, Kepulauan Spratly dan area Tepi Macclesfield.

Pulau karang itu disebut Tiongkok dengan nama "Ren'ai Jiao", sedangkan oleh Filipina sebagai "Beting Ayungin" merupakan bagian dari Kepulauan Spratly yang disengketakan oleh Tiongkok, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina dan Vietnam

Pada 2016, Mahkamah Arbitrase Internasional, atas permintaan Filipina, memberikan fatwa bahwa daratan hasil reklamasi di Laut Tiongkok Selatan tidak bisa dijadikan dasar klaim perairan. Tiongkok menolak mengakui fatwa itu karena menilai tidak punya dasar hukum, sementara Indonesia dan berbagai negara lain menerimanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Nilam Butuh Terobosan, ARC USK Dorong SRG Jadi Solusi Tata Niaga
    Penerapan SRG nilam sangat krusial bagi sektor manufaktur ...
  • Impor Pelumas RI Tembus Ribuan Ton, Menperin Resmikan Pabrik Raksasa Shell, Libatkan 50 Vendor Lokal
    Kehadiran fasilitas produksi berkapasitas 12.000 ton per tahun ...
  • Pameran Fi Asia Indonesia 2026 Perluas Akses Industri terhadap Teknologi Pangan Global
    Ulasan yang sangat mencerahkan terutama pada pandangan Dr. ...
  • Wali Kota: Pemkot Bandung Dorong Industri Sepatu Perluas Pasar Ekspor
    Langkah strategis Pemkot Bandung menyoroti urgensi Surat Keterangan ...
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Orang kepercayaan Menterinya aja kena OTT KPK ...
Daerah
Batu Sengaja Ditaruh di Rel...

Kongo Mulai Vaksinasi Ebola untuk 50.000 Petugas Kesehatan

20 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Kongo Mulai Vaksinasi Ebola...

Mantan Presiden Chili Mundur dari Pencalonan Sekjen PBB

20 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Mantan Presiden Chili Mundu...
Advertisement
Drama VAR dan Penalti, Atletico Madrid Pecundangi Real Madrid di Laga Derby Membara!

Drama VAR dan Penalti, Atletico Madrid Pecundangi Real Madrid di Laga Derby Membara!

21 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.