Sambut Era ‘Green Jobs’, Apa yang Bisa Dilakukan Institusi Pendidikan?
📅 Kamis, 07 Mar 2024, 10:03 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Makna Zaezar
Lingga Utami, Universitas Pendidikan Indonesia
Asosiasi Industri Fotovoltaik Eropa (EPIA) bersama Greenpeace International memprediksi green jobs akan menjadi tren global mulai tahun 2025. Namun, badan PBB untuk program pembangunan (UNDP) memperkirakan pada tahun 2030, 60% generasi muda di dunia belum memiliki green skills yang diperlukan untuk memasuki era green jobs.
Green jobs adalah jenis pekerjaan yang berkontribusi melestarikan dan memulihkan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas perusahaan dan sektor ekonomi. Pekerjaan ini mencakup misalnya, pekerjaan
yang dapat membantu melindungi ekosistem dan biodiversitas; mengurangi energi, materi, dan konsumsi air; dekarbonisasi perekonomian; serta mengurangi atau mencegah pembuatan segala bentuk limbah dan polusi. Salah satu bentuk green jobs saat ini misalnya pekerjaan teknisi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang bertanggung jawab mentransformasikan energi terbarukan agar berkelanjutan.
Untuk mendukung penciptaan green jobs, Higher Education Sustainability Initiative, kemitraan terbuka antara beberapa badan PBB dan komunitas pendidikan tinggi, mengkampanyekan "Education for Green Jobs" sebagai upaya untuk memfasilitasi tuntutan green jobs melalui pendidikan.
Bagaimana langkah-langkahnya?
Sebaiknya Anda baca juga:
Membangun green awareness
Green awareness atau kesadaran hijau merupakan sikap yang dianggap pro-lingkungan. Kesadaran ini memahamkan pentingnya mengurangi jejak ekologis untuk menjaga keberlanjutan Bumi, sebagai bentuk menghadapi tantangan kritis persoalan lingkungan.
Untuk mendukung green jobs di masa depan, institusi pendidikan perlu menyuburkan green awareness sehingga dapat mendorong siswa menerapkan praktik keberlanjutan, seperti pengurangan jejak karbon dalam kehidupan sehari-hari melalui aktivitas berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sekolah-sekolah di Indonesia juga dapat membangun green awareness dengan menguatkan literasi lingkungan dalam kegiatan pembelajaran. Menurut organisasi untuk kerja sama ekonomi dan pembangunan_ (OECD), green awareness mencakup:
1. Kesadaran terhadap isu-isu lingkungan: Diukur dari seberapa banyak siswa mendapat informasi tentang isu-isu lingkungan saat ini.
2. Persepsi terhadap permasalahan lingkungan hidup: Diukur dari seberapa besar kepedulian siswa terhadap permasalahan lingkungan hidup.
3. Optimisme lingkungan: Diukur dari keyakinan siswa bahwa tindakan mereka atau tindakan manusia dapat berkontribusi terhadap pelestarian dan perbaikan lingkungan.
Dalam membangun green awareness, para guru berperan sebagai fasilitator utama dalam menyampaikan pengetahuan dan pemahaman mengenai isu-isu lingkungan. Guru membentuk karakter dan nilai-nilai berkelanjutan, semisal dengan memberikan landasan konseptual yang kuat kepada siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Kurikulum Merdeka yang saat ini digunakan oleh sekolah belum berhasil membuat kesadaran lingkungan menjadi sesuatu yang dekat dan relevan bagi siswa. Meskipun pembelajaran sudah terintegrasi, masih terdapat hambatan pengetahuan, keterampilan, dan infrastruktur yang perlu diatasi. Ini menunjukkan upaya membangun green awareness tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tapi juga sekolah dan pemerintah secara kolaboratif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!