Sulit Memacu Produktivitas Pangan dengan Saluran Irigasi yang Buruk
📅 Rabu, 28 Feb 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiSementara itu, Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan tata kelola air semestinya demokratis dan berkelanjutan sejalan dengan nilai-nilai sosial budaya, kearifan lokal, dan melibatkan institusi masyarakat adat/lokal.
Dia mencontohkan penerapan sistem irigasi subak di Bali yang merupakan kearifan lokal dan manifestasi dari filosofi/konsep Tri Hita Karana. Dia juga menyoroti bendungan di Indonesia yang belum sebanding dengan kebutuhan. Dibanding Tiongkok yang memiliki 98.000 bendungan dan Korea yang punya 17.800 bendungan, maka Indonesia masih ketinggalan.
Kementerian PUPR menyebutkan RI butuh 300 bendungan baru untuk antisipasi krisis air dan dampak perubahan iklim. Sedangkan dalam 10 tahun terakhir, Kementerian PUPR sudah membangun 60 bendungan untuk mencapai 100 persen ketahanan air.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!